Waktu covid-19, aku berkunjung ke rumah salah satu teman herbalis di Trawas untuk bertanya-tanya tentang obat herbal penangkal virus, tentunya sudah melalui serangkaian vaksin yang dianjurkan. Betapa takjubnya ketika sampai ke rumahnya, sebab ada berbagai tanaman obat dan secara fasih dia menyebutkan manfaatnya. Aku tertarik dengan kebun TOGA-nya, di setiap sisi banyak ditumbuhi tanaman sereh. Ia menyebutkan, menanam sereh yang melingkari seluruh kebunnya bermanfaat untuk mengganggu sistem penciuman nyamuk karena mengandung minyak atsiri serta zat sitronela. Jadi ketika keluarganya sedang asyik berkebun, tidak diganggu nyamuk. Sereh adalah superhero di kebun, membuat orang lain nyaman dan betah, meskipun ya tugasnya sebagai obat nyamuk.
Ketika langit gelap tiba dan butuh kehangatan setelah menerjang angin malam, wedang sereh jahe yang ditumbuk kasar menjadi alternatif untuk menghangatkan badan. Di samping khasiat lainnya yaitu melancarkan pencernaan, menurunkan kolestrol, meredakan nyeri haid, menurunkan tekanan darah, mengusir nyamuk, dan meredakan stres. Di saat tidak cocok dengan menu makanan di rumah, aku menyiasati dengan membuat sambal matah, apa pun lauk yang digoreng, ketika ditemani dengan sambal matah menjadi lezat, dengan rajangan tipis sereh yang wangi mampu menambah nafsu makan.
Sereh menjadi salah satu bumbu dapur yang harus ada di rumah setiap harinya selain bawang merah dan bawang putih. Suatu saat aku memasak soto, untuk mengeluarkan aroma wangi dari masakan soto, sereh harus digeprek terlebih dahulu, baru dimasukkan ke dalam masakan. Biasanya aku menggeprek sereh dengan menggunakan ulekan sambal yang terbuat dari batu. Sekali geprekan, dua kali, intinya sampai dia tertumbuk kasar baru dicemplungkan ke dalam kuah soto, sebab kalau tidak begitu, wanginya gak keluar. Sebenarnya, soto tanpa sereh pun juga bisa. Tapi, memangnya siapa yang mau skip sereh ketika membuat soto? Lalu, apakah ketika soto matang dan keluarga makan dengan menu soto, serehnya akan dimakan juga? Tentu tidak, sereh akan dibuang. Dia tetap ada di kuah soto sampai habis, kemudian dibuang bersama sisa-sisa kuah. Bahkan kalau disajikan di meja makan pun, sereh tidak ikut disajikan, dia ditinggalkan di panci besar, mangkuk-mangkuk soto yang tidak sengaja terisi sereh akan dikembalikan ke panci besar karena dianggap mengganggu estetika. Begitu nestapanya sang sereh, dia harus dihancurkan terlebih dahulu agar menjadi pelengkap, menguar wangi, setelah itu dia dibuang.
Tapi ini bukan tentang sereh :)
.png)

Tidak ada komentar
Posting Komentar
Budayakan berkomentar ヽ(^。^)ノ