Menulis untuk Bahagia

Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari. (Nyai Ontosoroh - Bumi Manusia)

Main Posts Background Image

Main Posts Background Image
Tampilkan postingan dengan label ceritaku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ceritaku. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 Maret 2024

Ngopi Santai Bareng Habib Husein Ja’far Al-Hadar



Termasuk orang yang beruntung karena ga cuma sekali ketemu sama sesama cucu Nabi

(((Sesama)))

Ciyee..

Sesama cucu Nabi Adam.

Acara ngopi santai di ndalem kesepuhan Denanyar membahas dakwah para santri milenial di media sosial bersama Habib Husein Ja’far Al-Hadar, kata cucu Nabi Muhammad tersebut:

1. Olah emosi, analognya: jangan sampai emosi ibu lebih rendah dari emosi anak, kalau anaknya tantrum, ibunya tidak boleh ikutan tantrum, emosi guru tidak boleh lebih rendah dari emosi murid. Begitu pula dakwah di medsos, dikomentari netizen di luar substansi konten itu sudah biasa, makanya emosinya harus lebih stabil, kalau netizen marah ya sudah kita tinggal ngopi saja asalkan kita tidak membikin gaduh 😄

2. Fenomena pansos di media sosial adalah bentuk dari kolaboratif, bukan kompetitif. Asalkan pansos dalam hal kebaikan. 

Maka hari ini saya mau pansos juga ke Ning @viracholiq yang suaranya selalu canduuu apalagi pas bawain sholawat Samara-nya Yai Faqih ❤️ 

Terima kasih, kagem Ning @nellynailud, Ning @azahharomain, dan seluruh keluarga besar ndalem Denanyar ❤️

Ga tau ini pertemuan ke berapa kali selama menjadi pengabdi Habib (bukan lagi fans 😌) tetapi setiap pertemuan senantiasa menghadirkan ilmu baru 🫶

MENANG DAN KALAH (TERNYATA) BUKAN HAL BIASA

sumber: pinterest


:: Tulisan panjang, rasah digagas, skip aja 😭 ::

Segala puji bagi Allah Swt, usai sudah proses pencoblosan Pilpres pada 14 Februari 2024 kemarin. Berdasarkan hasil quick count (hitung cepat) mayoritas lembaga survei, pasangan calon (paslon) nomor urut 02, Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka memperoleh suara lebih dari 57% menungguli paslon nomor urut 01, Anies Rasyid Baswedan – Muhaimin Iskandar, dan nomor urut 03, Ganjar Pranowo – Mahfud MD.

Meski hasil resmi dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) belum dirilis, tetapi biasanya komposisi jumlah perolehan suara yang muncul tidak akan jauh berbeda dari hasil quick count yang memang digelar secara ilmiah. Itu artinya, Pilpres 2024 yang banyak diprediksi bakal terjadi hanya dalam satu putaran menjadi hal yang tidak terelakkan.

Mental health (kesehatan mental) adalah sisi yang harus mulai mendapatkan perhatian di tengah panasnya cuaca politik saat ini. Pasalnya, perang yang memungkinkan dihadapi seseorang ialah berupa kecamuk batin baik di media sosial maupun di kehidupan nyata di tengah masyarakat. Barang kali, hal itu tidak terlihat terang-terangan. Namun, segala reaksi yang muncul sangat berpotensi menghadirkan depresi meskipun masih bersifat kecil dan halus.

Pentingnya mencurahkan perhatian terhadap kesehatan mental ini tidak hanya berlaku atau berfokus kepada pihak yang kalah, mental mereka para pendukung pihak pemenang pun terkadang juga menjadi korban dan rentan terganggu. Misalnya, mendapatkan tindakan perundungan dari sifat ofensif pihak yang kalah. Atau sebagian dari mereka saat ini sedang merasa tertekan lantaran belum menemukan ruang dan waktu untuk melakukan selebrasi secara nyaman dan aman.

Di sisi lain, pihak yang menang juga berpotensi bersikap jemawa karena menganggap persoalan perolehan suara tujuan final. Padahal siapa pun Presiden dan Wakil Presiden RI yang terpilih, tanggung jawab mengawal dan mengawasi pemerintahan yang berlangsung adalah kewajiban semua pihak. Pihak pendukung yang kalah maupun yang menang, sama-sama berkepentingan mengantarkan bangsa Indonesia ke masa depan yang lebih baik lagi.

Mencaci atau menghujat pendukung lawan, bergembira di atas kesedihan kelompok lain, gemar menyakiti hati seseorang, dan merendahkan pilihan orang lain adalah serangkaian bentuk kesombongan yang sangat dibenci oleh Allah Swt dan Rasul-Nya. Dalam QS. Luqman: 18, Allah Swt berfirman:

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًاۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ 
مُخْتَالٍ فَخُوْرٍۚ

“Janganlah memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi ini dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri.”

Nabi Muhammad Saw juga bersabda:

الْـكِبْرُ بَطَرُ الْـحَقِّ، وَغَمْطُ النَّاس

“Sombong itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.” (HR. Muslim).

Sekali lagi, menjaga kesehatan mental menjadi sesuatu yang sangat penting sekarang ini. Upaya itu merupakan bagian dari hifz al-‘aql (menjaga akal). Di antara bentuk ikhtiar hifz al-‘aql bagi para pendukung pilpres ialah dengan cara melewatkan berita yang menggiring opini negatif, filtrasi berita hoaks, serta skeptis terhadap informasi sebelum divalidasi oleh data dan fakta.

Upaya hifz al-‘aql di tahun politik juga tidak lepas dari peran para calon pemimpin yang didukung. Pemimpin sejati akan mampu level up dalam mengolah emosi sehingga tidak memprovokasi dan menebar kebencian di hati para pendukungnya.

Memang, menghadapi fakta kalah dan menang tidak semudah dengan menyatakan bahwa itu merupakan hal yang biasa. Tentu saja, bagi pendukung paslon dengan peraihan suara yang tidak sesuai harapan akan dihinggapi rasa sedih, kecewa, marah, dan beberapa kekhawatiran tentang nasib Indonesia ke depan.

Namun, cobalah untuk menjadi pemilih tangguh dengan cara menikmati setiap prosesnya hingga menjadi semacam healing trauma. Yakinlah bahwa nurani tidak pernah salah dalam menentukan pilihan. Akan tetapi, selanjutnya harus dipasrahkan penuh kepada Swt.

Kalah, sejatinya adalah ngalah, bisa dianggap berasal dari lema “nge-Allah,” menyerahkan segala sesuatu kepada Allah. Dalam ajaran Islam pun diajarkan untuk mencintai sekadarnya dan membenci sewajarnya. Rasulullah Saw bersabda:

ﺃَﺣْﺒِﺐْ ﺣَﺒِﻴﺒَﻚَ ﻫﻮﻧﺎ ﻣَﺎ ﻋَﺴَﻰ ﺃَﻥْ ﻳَﻜُﻮﻥَ ﺑَﻐِﻴﻀَﻚَ ﻳَﻮْﻣًﺎ ﻣَﺎ، ﻭَﺃَﺑْﻐِﺾْ ﺑَﻐِﻴﻀَﻚَ ﻫَﻮْﻧًﺎ ﻣَﺎ ﻋَﺴَﻰ ﺃَﻥْ ﻳَﻜُﻮﻥَ ﺣَﺒِﻴﺒَﻚَ ﻳَﻮْﻣًﺎ ﻣَﺎ

“Cintailah orang yang kau cinta dengan sewajarnya, boleh jadi suatu hari dia menjadi orang yang kau benci. Dan bencilah kepada orang yang kau benci sewajarnya, boleh jadi suatu hari dia yang kau benci menjadi orang yang kau cinta” (HR Tirmidzi).

Lagi pula, filosofi Jawa “gething bakal nyanding” (yang awalnya benci, akhirnya bersandingan) sudah sangat biasa terjadi dalam dinamika politik. Yang dulunya lawan, sekarang kawan. Yang sebelumnya mendukung secara ugal-ugalan sekarang, kini menjadi lawan secara terang-terangan.

Setelah itu, mereka, para elite pada akhirnya tetap bisa ngopi bersama untuk berembuk memajukan Indonesia. Sedangkan kita, tetap beraktivitas seperti biasa dengan segala kesibukan di dalamnya.

Manusia perlu sadar diri, bahwa semesta tidak melulu bekerja sesuai dengan apa yang diinginkan. Tentu, selalu akan ada campur tangan Allah Swt. Boleh jadi yang buruk menurut manusia justru sejatinya kebaikan di sisi Allah. Begitu pun sebaliknya.

Dalam QS. Al-Baqarah: 216, Allah Swt berfirman:

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ

“Diwajibkan atasmu berperang, padahal itu kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”

Mari memandang bahwa ketiga paslon capres-cawapres sebagai sosok anak bangsa yang sangat mencintai dan menginginkan kebaikan untuk Indonesia. Mari memahami bahwa pilpres hanya merupakan sebentuk proses dari asas demokrasi dalam rangka mencari pemimpin terbaik yang dipilih langsung oleh rakyat.

Para guru juga mengarahkan kita untuk berdoa agar diberikan pemimpin yang baik. Sebagaimana doa yang diajarkan ulama karismatik, Dr. KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus berikut ini:

اللهم لا تسلط علينا بذنوبنا
من لا يخافك ولا يرحمنا

“Ya Allah ya Tuhan kami, janganlah Engkau kuasakan atas kami -karena dosa-dosa kami- penguasa yang tidak takut kepadaMu dan tidak berbelas-kasihan kepada kami.”

Bukankah ini adalah doa yang mulia? Ketika Allah Swt telah menakdirkan pemimpin terpilih, bersikaplah legawa bahwa itu adalah pilihan terbaik, jawaban dari doa, serta menjadi penanda kemenangan kita bersama.

Setelah itu, jangan pernah lelah untuk terus mengawal dan mengkritik sistem pemerintahan yang tidak sesuai dengan moral, etika, dan hukum. Tetaplah mengedepankan prinsip amar ma’ruf bil ma’ruf-nahi munkar bil ma’ruf atau menegakkan kebaikan serta mencegah kezaliman dengan sikap yang bermartabat. Dengan begitu, demokrasi akan tetap terwujud melalui musyawarah mufakat dengan menjunjung tinggi nilai akhlak, adab, serta asas ketauhidan.

Siapa yang paling bertanggung jawab dalam menjaga kesehatan mental usai pilpres? Tentu saja kita sendiri.

Pahami apapun hasil Pilpres 2024 sebagai wujud dari rukun iman yang keenam, yakni beriman kepada qada dan qadar atau semua ketetapan dan ketentuan yang berasal dari Allah Swt.

Longgarkan hati, jangan berlarut-larut dalam kesedihan. Sebab, kesedihan dan sakit hati yang berlarut terhadap peristiwa yang terjadi sama halnya dengan tidak rida dengan keputusan Allah.

Apabila dirasa masih berat beban yang ada dalam pikiran, cobalah untuk berpuasa dari media sosial dan menghindari percakapan berbau politik di antara teman atau keluarga.

Pilpres hanya sekali dalam lima tahun, tetapi ukhuwah islamiyah dan ukhuwah wathaniyah harus dipegang teguh untuk menjadi manusia yang tetap dalam ‘tali’ Allah Swt:

وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا ۖوَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَاۤءً فَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهٖٓ اِخْوَانًاۚ وَكُنْتُمْ عَلٰى شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنْقَذَكُمْ مِّنْهَا ۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمْ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ

“Berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, janganlah bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara. (Ingatlah pula ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.

Ditulis di https://ikhbar.com/konsultasi/semua-ketetapan-allah-termasuk-apapun-hasil-pilpres/

Rabu, 18 Januari 2023

Bolehkah Seorang Ibu Mengeluh?

“Wong wedok nek mari tandang gawe, ngramut anak bojo, masak, trus sambat, derajate diunggahno karo Pengeran” KH. Husein Ilyas

“Orang perempuan, kalau habis bekerja, merawat anak dan suami, masak, kemudian mengeluh, maka derajatnya diangkat oleh Tuhan.” KH. Husein Ilyas

Mungkin kamu bertanya-tanya (tidak perlu pakai nada Alif Cepmek), mengapa seorang Kyai justru menyarankan santri-santrinya untuk sambat? Begitulah beliau, Kyai yang kharismatik dari Mojokerto, usianya hampir 1 abad, segala dawuhnya sarat makna. 

Dua kali aku mendengarkan-bagiku-nasihat yang begitu indah dari murabbi ruhina. Nasihat yang menjadi rintik nurani bagi mereka, ibu-ibu yang lelah, bangun lebih awal dan yang tidur paling akhir namun tetap tampak biasa sebab trahnya yang “wani tapa”, kuat tirakat, anti “sambat”, bahkan mengeluh menjadi suatu hal yang dihindari bagi perempuan, hanya demi pembuktian bahwa dirinya perkasa.

Atas nama supermom, perempuan multitasking, perempuan itu sumber kekuatan, perempuan itu bla bla bla, yang sejatinya semua hal itu lahir hanya demi menguatkan citra perempuan sekaligus mematikan karakter perempuan.

Awalnya aku menangkap dawuh dari Yai Husein Ilyas sebagai sebuah lafal mantuq yakni “mengeluh saja dinaikkan derajatnya”, mafhum-nya adalah “apalagi tidak mengeluh, maka derajatnya akan lebih naik lagi”. Namun lagi-lagi tidak semua kalimat itu perlu ditafsirkan dengan mencari mafhum-mafhum di luar lafal.

Ada banyak ibu yang tidak bisa mengekspresikan rasa lelahnya, malu mengeluh takut dibilang bukan ibu kuat dan bukan ibu tegar, rasa lelahnya ia simpan sendiri, rasa jenuhnya ia kuburkan sendiri, katanya “lelah menjadi lillah”. Kalau uring-uringan direspon “zaman dahulu anaknya banyak-banyak, gak ada yang depresi, gak ada yang ngeluh”, kemudian kurang iman menjadi asesoris terburuk yang ddidekorasikan pada sosok ibu yang baby blues dan post partum deppresion.

dari atas kiri: (Allah yarham) Bunyai Hj. Ma’rifah, KH. Husein Ilyas, Abi Maksum Maulani, (Allah yarham) Umi Khilyati Zahra


Aku pun paham dengan dawuh beliau, mengapa Tuhan menaikkan derajat perempuan yang mengeluh? Karena mengeluh adalah salah satu cara melepaskan emosi negatif dalam diri, membuang dosa-dosa overthinking pada Tuhan 😌 dengan mengeluh dapat mengurangi beban psikologis, dengan berbagi keluh kesah mampu mencurahkan apa kegelisahan kita, memendam beban berat dalam hati tidak selamanya sehat bagi jiwa. Hanya saja yang perlu diperhatikan adalah porsinya, maka mengeluhlah dengan sebaik-baik keluh kesah ❤️

Ditulis dalam rangka rindu hingga sesak kepada beliau, KH. Husein Ilyas. Atholallahu umrohu fi sihhatin wa afiah, wa a'aada ‘alaina min barokatihi wa asrorihi wa ulumihi fiddaroini, Al-Fatihah..

Sabtu, 19 September 2020

Melahirkan dengan Nyaman dan Tenang


14092020

Menurut penelitian, hanya sekitar 5% bayi yang lahir sesuai hari perkiraan lahir (HPL). Dan aku termasuk yang 5% itu, melahirkan bayiku tepat saat HPL. 

Meskipun ini adalah kelahiran yang ke-5, tak membuat aku pintar membedakan mana kontraksi asli dan mana kontraksi palsu. Beberapa kali mengalami kontraksi palsu membuatku galau. Apa lagi usia 35 minggu bayi dinyatakan dokter masuk panggul, jadi nambah galau deh saat mau mendekati HPL.

Saat itu tanggal 14 September 2020 jam 11.52 perut terasa kencang, tapi bukan mules. Entah mulai jam berapa muncul kencang-kencang pada perut karena selama hamil aku selalu tidur subuh bangun siang, jadi ketika bangun tidur aku merasakan ada gelombang cinta dari dalam perut. Mungkin sudah mulai ada sejak aku tidur 😁 Karena sudah feeling akan melahirkan pada hari itu, maka aku masih sempatkan masak, bersih-bersih rumah, nyuapin anak dan ponakan-ponakan, sholat dzuhur dan make up dong 😌

Aku instal aplikasi penghitung kontraksi, kontraksi mulai hilang timbul per 30 hingga 15 menit. 

aplikasi timer kontraksi

hitungan kontraksi

Jam 14.00 ada peringatan dari aplikasi untuk segera menghubungi provider. 

 
Maka segera aku dan suami berangkat ke RS. Kamar Medika. Sebenarnya masih ingin tinggal di rumah dulu sambil menunggu kontraksi makin intens, RS juga dekat hanya 5 menit dari rumah, tapi karena ini masa pandemi dan pastinya ada proses yang dilalui seperti rapid atau swab dan pemeriksaan lainnya maka kuputuskan untuk berangkat lebih awal.

Jam 14.20 sampai di IGD, diperiksa bidan untuk VT sudah bukaan 2, tes rapid, dan menunggu hasil rapid, pesan kamar VIP Lavender. Pemesanan kamar VIP ini ternyata sudah disiapkan oleh suami jauh-jauh hari saat periksa kehamilan agar selama menunggu penambahan bukaan aku bisa lebih nyaman. 

Jam 14.30 keluar hasil rapid nonreaktif, jadi kata dokter tidak perlu tindakan swab, akhirnya bisa langsung pindah kamar untuk menunggu kontraksi. 

Di sela-sela menunggu nambah bukaan, aku nge-chat sama temen-temen dan adekku. Membahas apa aja, ada yang curhat, ada yang bahas seputar permasalahan fiqh perempuan, chat sama admin Reinkarnasi (admin di Grup FB Share Ilmu dan Pengalaman tentang Kehamilan dan Tumbuh Kembang Anak) kasih update perkembangan kontraksi, chat sama admin perempuan membaca dan vendor tanya-tanya merchandise yang belum sampai dianter Pak Gojek, dan tidak lupa membahas baju-baju kece di olshop sama adekku 😌 sampai-sampai suami komentar “iki piye arep lahiran kok sik kober chattingan” *pertarungan melahirkan nyawa baru masih sempat membahas seputar duniawi dan perghibahan 😌

heboh sendiri di grup

tidak lupa membahas masalah duniawi 😌

masih seputar perduniawian 😪

Dan chatting beberapa aib yang tidak bisa ditangkap layar 😗

Oh ya, sudah masuk Jam 20.00 VT kedua masih bukaan 3, lumayan lama sih buatku untuk kelahiran yang ke-5 ini. Jam 20.30 aku mendapatkan telfon dari Ning Shoma, beliau tiba-tiba tanya kabarku, pas sekali waktunya, sekalian saja kubilang minta barokah doa ke Romo Yai Husein Ilyas (ayah Ning Soma) agar kelahiran kali ini lancar, karena kontraksi justru makin lama makin lambat datang. Gayung bersambut, beberapa menit kemudian Ning Soma datang ke RS membawakanku air asma’ (air doa) dari Romo Yai, dan langsung kuminum. Ajaib, tiba-tiba gelombang cinta itu datang secara intens, seharusnya observasi lagi jam 23.00, tapi sepertinya makin intens kontraksinya. Karena sudah semakin berhasrat ngeden, akhirnya jam 22.00 suami menghubungi bidan yang jaga dan cuss langsung dipindah ke ruang VK, kontraksi makin berlanjut yang rasanya aduhai, tapi kata bidan gak boleh ngeden dulu, tapi aku gak kuat kepingin ngeden, ya sudah aku ngeden aja 😂 pas dilihat bidan ternyata kepala bayi sudah turun dan taraaa jam 22.30 bayi yang dinanti-nanti keluar juga dari rahim emak. 

Terima kasih, Gusti. Telah melahirkan kami sebagai orang tua lagi. Sejatinya ketika seorang ibu melahirkan, yang lahir bukan hanya seorang anak, tapi juga kelahiran kembali bagi kedua orang tuanya. 

Terima kasih, “ADIB MUHAMMAD MAYDUMI SOSRODIHARJO” telah berkenan lahir dari rahim Ibu, telah berkenan menjadi anak ke-5 Bapak dan Ibu. Semoga engkau tumbuh dan berkembang dengan baik serta menjadi anak yang sholih.

Terima kasih suamiku yang menjadikanku prioritas dalam segala hal. 

Terima kasih RS. Kamar Medika dengan segala fasilitasnya yang mendukung pasien untuk melahirkan secara per vaginam, terima kasih dr. Yulianto, SpOg yang senantiasa mengawal perkembangan kehamilanku hingga proses melahirkan dengan tenang, sehat, dan selamat hingga proses pemulihan pasca melahirkan. 

*man lam yasykurin nas lam yasykur lillah
*la in syakartum la aziidannakum

Berikut aku lampirkan beberapa testimoni melahirkan dengan mental yang santuy 




Jadi begini ibu-ibu, mari kita ganti makna melahirkan bukan lagi pertarungan antara hidup dan mati tetapi melahirkan adalah pengalaman yang indah dan menyenangkan. Mari memberikan afirmasi positif ke tubuh kita bahwa kita mampu melahirkan dengan mudah, nyaman, dan minim rasa sakit. Tubuh kita pintar, janin kita pintar, kita diberkati Tuhan. Tidak peduli bagaimana cara melahirkannya, baik melahirkan secara per vaginam atau melahirkan operasi, kita harus bahagia, kita harus nyaman, jangan panik. Kita semua diberkahi kemampuan untuk melahirkan insan-insan yang mulia. 

Selama hamil aku sering membaca ilmu hypnobirthing dari Bidan Yessie, baik berupa website-nya di bidankita.com, IG, dan juga youtube. Aku lampirkan link video dari bidan kita yang membuat kita merasa nyaman dan tenang ketika akan melahirkan. cekidot 😙




Sabtu, 05 September 2020

Pilah-Pilih Jenis Kelamin Anak


Bagi seorang ibu ketika hamil, jenis kelamin laki-laki atau perempuan bukanlah hal yang paling diprioritaskan, yang didambakan seorang ibu hamil adalah bayinya lahir melalui persalinan yang lancar, ibu sehat, bayi juga sehat serta sempurna. Karena pengalaman melahirkan adalah pengalaman yang begitu indah. Saya lebih menyukai istilah melahirkan adalah pengalaman yang indah daripada harus menyebutnya sebagai pertarungan antara hidup dan mati. Kita harus membangun pemikiran yang positif bahwa semua perempuan seharusnya memberdayakan diri untuk melahirkan dengan indah, bagaimanapun proses kelahirannya, entah oprasi sesar atau kelahiran pervaginam. Semuanya indah karena perempuan melahirkan insan yang indah pula. 

Memang ada beberapa tips atau program bagaimana cara memiliki anak laki-laki dan perempuan, baik cara bercinta, jadwal ovulasi kaitannya dengan waktu bercinta ataupun makanan yang dikonsumsi, tapi sekali lagi, untuk apakah hal itu? Kita tidak sedang hidup di zaman jahiliyah, bukan? Di mana jenis kelamin anak menjadi yang paling utama karena ada kaitannya dengan kehormatan, pertahanan nasab atau apa pun itu?

Kemudian pihak yang sering mendapatkan stigmatisasi tentang jenis kelamin bayi yang dilahirkan adalah perempuan atau seorang ibu. Saya pernah membaca curhatan seorang ibu yang intens menulis di grup fb tumbuh kembang anak, menanyakan tentang bagaimana caranya memiliki anak laki-laki karena suaminya menginginkan anak laki-laki, tulisan selanjutnya di grup dia berhasil hamil sudah memasuki trimester kedua dan USG jenis kelaminnya perempuan lagi, ia pun curhat jika anaknya lahir perempuan lagi maka ia akan diceraikan suaminya, ia bingung bukan kepalang. Bayangkanlah bagaimana perasaan seorang ibu saat itu, sudah hamil merupakan lemah yang bertambah-tambah, lelah fisik, kemudian ada ancaman-ancaman psikologis dari toxic relationship atau dari orang-orang terdekatnya. Saya tidak bisa membayangkan betapa hancur hatinya. Padahal menurut ilmu biologi bab reproduksi, laki-lakilah yang menentukan jenis kelamin bayi melalui sperma pembawa kromosom XY, sedangkan perempuan memiliki kromosom XX, jika kromosom laki-laki membawa kromosom X bergabung dengan kromosom perempuan X, maka jadilah anak perempuan (XX). Jika kromosom laki-laki membawa kromosom Y dan perempuan tetap dengan kromosom X maka jadilah anak laki-laki (XY). Maka akan menjadi aneh ketika perempuan yang disalahkan jika tidak mengandung anak dengan jenis kelamin tertentu yang didambakan oleh suatu keluarga. Bahkan ada suami yang ingin menikah lagi karena istrinya ‘tidak bisa’ melahirkan anak laki-laki. Mari upgrade ilmu pengetahuan agar tidak tersesat jalan. Sampai di sini, perlukah kita memilih akan memiliki anak dengan jenis kelamin laki-laki atau perempuan?

Banyak juga bertebaran artikel keutamaan memiliki anak laki-laki, kemudian ada artikel tandingan keutamaan memiliki anak perempuan, *hayyah kunu perang keutamaan 😂 intinya memiliki anak laki-laki dan perempuan sama saja, sama-sama memiliki tanggung jawab moral dan finansial. 

Komentar-komentar tentang jenis kelamin anak yang menurut saya mom shaming juga harus dihindari, seperti;

“Wah hamil lagi ya? Semoga cowok ya, kan sudah ada cewek? Tinggal cowok yang belum.” 

“Anaknya cowok-cowok kapan nih bikin anak cewek?”. 

Memang pertanyaan seperti ini hanya sekadar basa-basi atau kalau kata orang Jawa abang-abang lambe turah, hanya pemanis untuk memulai obrolan. Di mana posisi kita? Apakah kita korban mom shaming atau jangan-jangan kita pelaku mom shaming? Mengapa saya mengategorikan hal ini sebagai mom shaming? Karena tidak semua orang tua legowo dengan pertanyaan seperti itu, terkadang komentar-komentar tersebut terdengar menjengkelkan, bikin mood menjadi buruk, baper. 

Saya adalah seorang ibu yang memiliki 4 anak laki-laki dan satu anak perempuan yang sudah diambil Allah. Banyak kalimat annoying yang dilontarkan oleh orang-orang sekitar saya, seperti;

“Ayo coba lagi bikin yang cewek”, 

“Yah kurang lengkap gak ada ceweknya”, 

“Wah yang meninggal cewek kemarin bukan rezekinya ya! Ayo bikin lagi”. 

Sampai pada hal yang benar-benar mengganggu saya adalah kalimat 

“Kamu gak bakat punya anak perempuan, makannya yang dulu itu meninggal”. 

Saya mencoba untuk self healing, bangkit dari trauma melahirkan anak perempuan saya yang telah meninggal. Termasuk trauma dari komentar orang lain. Anak perempuan saya yang saya beri nama Adibah Azzuhdiyah dan meninggal pada hari kelahirannya bukan berarti belum rezeki saya. Bagaimana pun dia tetap menjadi rezeki saya yang terbesar, saya memilikinya dan Tuhan yang mengasuhnya, nikmat mana lagi yang harus saya dustakan?, kesedihan mana lagi yang harus saya ratapi? Sedangkan saya diberikan Tuhan mandat untuk mengasuh keempat kakak dan adik Adibah. 

Tapi sejatinya kita semua ini berproses, saya tidak bisa dong mengeluh dengan komentar dan penilaian orang lain, sedangkan orang lain yang berkomentar kepada kita nyatanya dalam keadaan tidak berniat menyakiti. Ini mengingatkan saya dahulu di mana saya juga kerap komentar menyinggung kepada orang lain, misalkan saat saya bertemu dengan teman lama saya, ia belum menikah sedangkan saya sudah punya anak 2, dengan enthengnya saya bertanya; 

“Loh kamu belum nikah ya? Buruan, aku aja sudah punya anak 2 masak kamu belum nikah”

“Kemanten baruuu sudah isi beloom?”. 

Dan beberapa komentar-komentar jahat dari saya kepada teman-teman saya. Saya dulu juga entheng banget menganggap hal itu adalah biasa, tidak ada niat menyakiti. Tuhan adil dengan membiarkan saya merasakan sakitnya ditusuk kata-kata. Setelah peristiwa demi peristiwa saya baru sadar, sudahlah mari diputus mata rantai mempermalukan orang lain. Bukan saatnya merendahkan, bukan saatnya mom shaming, bukan saatnya abang-abang lambe yang ternyata menyakitkan, berfikir dulu sebelum berkata, jangan sampai kecepatan kata-kata mendahului fikiran dan empati.

gambar hanya pemanis 😶

Kembali lagi ke persoalan jenis kelamin bayi. Meskipun tidak bisa dipungkiri kita menginginkan anak laki-laki atau perempuan, tapi mari coba kita fikir, untuk apa kita memilih punya anak laki-laki? Mengharuskan punya anak perempuan? Bukankah menikah lalu hamil adalah berkah dari Tuhan? Tidak cukupkah berterima kasih dan berdoa untuk kesehatan dan keselamatan bayi yang dikandung? 

“Janin dalam kandungan mempunyai unsur yang sangat sederhana yaitu perasaan. Dia tidak punya keinginan dan dia belum punya kemauan. Dia suci dan dia sudah mampu merekam semua kejadian dan peristiwa yang menimpanya, ibunya maupun yang ada di lingkungannya.” (Bidan Yessie)

Apa jadinya jika orang tuanya memilih harus perempuan atau harus laki-laki, sedangkan jenis kelamin janin sudah terbentuk pada saat dia menjadi sebuah embrio, bayangkan bagaimana perasaannya? Apakah dia akan merasa tertolak karena takdirnya? Kehamilan adalah anugerah terindah, bagaimana pun perjuangannya demi menjaga kehamilannya. Mampu menjaganya dari awal kehamilan sampai lahir juga membesarkannya kelak adalah cita-cita mulia yang ingin selalu diwujudkan.

*Robbi laa tadzarni fardan wa anta khoirul waaritsiin
*Robbi hab lii minas shaalihiin

Kamis, 20 Agustus 2020

Siapa Kita di Film Tilik?


Jagat maya heboh dengan film pendek berdurasi 32 menit berjudul “Tilik” produksi Ravacana Films yang diunggah di channel youtube-nya. Film dengan konsep one shot dan setting pedesaan yang hijau dan asri ini benar-benar memanjakan mata penonton. Menariknya, dialog dalam film ini memakai bahasa Jawa khas Yogyakarta sesuai dengan latar tempat film, sehingga terlihat natural bukan seperti film. Disediakan juga terjemahan dalam bahasa Indonesia.  

Tilik berasal dari bahasa Jawa yang artinya menjenguk, budaya tilik sangat kental di masyarakat Indonesia, ada tilik bayi, tilik manten, tilik wong loro, tilik mangkat umroh/haji, tilik bali umroh/haji, tilik pindah omah, dll. 

Tilik yang dimaksud dalam film ini adalah tilik wong loro, atau menjenguk orang sakit. Saat itu yang sakit adalah Bu Lurah, dan ibu-ibu sekampung berangkat ke rumah sakit menjenguk Bu Lurah naik truk. 

Ini loh yang kental di masyarakat pedesaan, mereka bahu-membahu dalam keadaan apapun. Hubungan sosialnya begitu erat, jika mendengar ada yang sakit maka segera merapat untuk menjadwalkan tilik secara rombongan, mereka tidak berangkat dengan kendaraan masing-masing, tapi bersama-sama menyewa bus, pikap, atau truk. Aku pernah melihat rombongan ibu-ibu naik truk untuk mengikuti pengajian umum yang diadakan di suatu desa, jujur melihat semangat ibu-ibu naik truk untuk mengikuti pengajian sempat membuat pipiku basah karena terharu. Mereka tidak peduli dengan bagaimana hidup perempuan-perempuan sosialita di luar sana, membawa bekal jajanan, duduk ndeprok, pakaian sederhana, sesekali pamer emas yang dikenakan di jari dan pergelangan tangan. Pamer gadget can’t relate. Begitulah gambaran ibu-ibu di film Tilik.

Konflik dalam film dimulai dari sebuah dialog pertanyaan Bu Sam kepada Bu Tedjo “Fikri ki karo Dian po bener sesambungan toh, Buk?”. 



Pertanyaan ini semacam pemantik api pergosipan. Jiwa perghibahan emak-emak pasti ikut bergetar mendengarkan muqoddimah dari Bu Sam. 

Bu Sam di film ini adalah tipikal orang yang suka memancing permasalahan dan tahu betul karakter dari target umpannya, bisa jadi Bu Sam sudah tahu gosip tentang Dian, tapi dia lebih suka menampar dengan meminjam tangan orang lain. 

Di kehidupanmu ada orang seperti Bu Sam? Atau jangan-jangan itu kita?, aku? Atau justru bahkan sebaliknya, Bu Sam adalah orang polos, bukan orang picik gemar memancing masalah. Ya, Bu Sam emang penasaran saja sama Dian dan gak nyangka kalau masalahnya jadi perdebatan panjang antar ibu-ibu? Kamu pernah di posisi ini? Cuma niat bercanda atau malah keceplosan ngomong apa ternyata jadi awal munculnya masalah?

Bu Tedjo pun tak kuasa untuk mengeluarkan bakat lambe turahnya. Sepanjang perjalanan di atas truk Bu Tedjo menyampaikan beberapa informasi penting tentang Dian disertai bukti-bukti kuat yang dia dapatkan dari sosmed Dian.


Ibu-ibu yang lain pun semakin khusyuk dalam perghibahan yang diketuai oleh Bu Tedjo; Dian yang keluar masuk hotel, jalan-jalan ke mall dengan om-om, muntah-muntah kayak orang hamil, baru kerja sudah punya hp baru, motor baru dan barang-barang bermerk.

“Iso koyo ngunu”
“Astaghfirullohal adzim iso dempel-dempelan ngunu” 
“Aku mari ndelok fotone Dian iso mrinding kabeh awakku”

Sangat gurih bukan? Begitulah sahut-sahutan ibu-ibu membicarakan Dian, kembang desa pujaan para lelaki lajang dan beristri yang dikabarkan dekat dengan Fikri, anak Bu Lurah. 

Bu Tedjo di sini tipikal orang yang nyinyir, merasa benar, percaya diri, cerewet, influencer dengan kearifan lokal, buzzer sejati. 😄

Bu Tedjo be like;


Apakah kita tipikal Bu Tedjo? Yang merasa bergairah dan bersemangat ketika membicarakan aib orang lain? 

Sedangkan Yu Ning (masih saudara dengan Dian) selalu mengarahkan Bu Tedjo untuk berpikiran positif, tidak mudah menerima informasi yang belum jelas fakta dan bukti-buktinya. Yu Ning selalu husnudzon, tapi banyak yang tidak berada di pihaknya.


Apakah kita ini Yu Ning? Berusaha menangkal informasi yang beredar karena kurang kredibelnya suatu berita, atau karena informasi itu ditujukan kepada orang-orang terdekat kita atau orang yang kita sayangi?

Ingat dengan pilpres 2019? Semua berita akan dianggap hoax jika berita negatif itu ditujukan kepada pilihan kita. 

Bu Tri, diceritakan di sini adalah tim sukses Bu Tedjo dalam hal perghibahan. Bu Tri ini tipikal majas hiperbola, menambah-nambahi info tentang kejelekan Dian yang membuat suasana gosip makin sip. Bu Tedjo pun makin mumbul karena merasa ada yang mendukungnya. 


Apakah kita mau menjadi Bu Tri? Membenarkan perkataan teman, bukan mengatakan yang benar pada teman? 

Di tengah ibu-ibu yang mabok gosip, ada Yu Nah yang mabok kendaraan, dalam dunia pergosipan di atas truk ini sepertinya Yu Nah yang paling mewakili orang-orang yang gak mau tahu dengan sekitarnya karena dia sudah lelah dengan dirinya sendiri. Telek minthi sama Si Dian, mau dia perempuan gak bener kek, mau dia hamil di luar nikah kek, emang gue pikirin. Ini kalau Yu Nah main fb, semua orang di timeline-nya nyetatus bab klepon tidak syar’i, wall Yu Nah dipenuhi curhat masalah pribadi.


Adegan gotrek ditilang polisi juga menggambarkan “The Power of Emak-Emak”, satu emak yang sein kiri belok kanan saja sudah bikin polisi susah, ini emak-emak satu truk mau gigit polisi. That “empatinya itu lhooo Paaak”, sama “saya punya kenalan polisi bintangnya lima jejer-jejer berani apa enggak?” Bener-bener bikin ngakak 😂 sampai akhirnya pak polisi nyerah gak jadi nilang gotrek. Emak-emak dilawan 😎


Sopir gotrek ibu-ibu ini ternyata juga ngefans loh sama Dian, sampai dia dijewer istrinya waktu ikutan ngomongin Dian “bojoku ancen NGGIATHELI” 😂. Mungkin pak sopir lelah karena sepanjang perjalanan ibu-ibu ghibahin Dian. Entah ya aku melihat orang laki-laki tidak begitu tertarik dengan gosip ibu-ibu. Makanya suka heran kalau ada cowok tapi suka gosip ;) sampai ada istilah lambe wedok 😄 padahal gosip gak kenal gender 😂

Sampai di rumah sakit, ibu-ibu turun dan kebetulan bertemu Dian dan Fikri di depan Rumah Sakit, Bu Tedjo sih tetep dengan kenyinyirannya tanya kapan Fikri sama Dian menikah, tapi mereka berdua tidak menanggapi. Namun ibu-ibu yang datang harus rela menerima kenyataan kalau ternyata Yu Ning salah info dan gegabah menjenguk Bu Lurah karena posisi Bu Lurah masih berada di ICU dan tidak boleh ditilik. Akhirnya mereka semua pulang.


Demi menghibur rasa kecewa ibu-ibu karena sudah datang jauh-jauh. Bu Tedjo punya inisiatif untuk mampir ke pasar gedhe agar ibu-ibu yang lain bisa bersenang-senang. Bu Tedjo faham betul kalau ibu-ibu paling suka diajak ke pasar untuk belanja dan mereka semua berbahagia.


Detik-detik berakhirnya film ini pasti semua geram dengan Bu Tedjo dan berharap Dian tidak seperti yang digosipkan. Namun nyatanya di luar dugaan, ending yang plot twist. Dian bukannya pacaran sama Fikri, malah mau menikah sama Pak Lurah, Bapaknya Fikri 😂 greget gak sih ide ceritanya 😂


Sedangkan pandangan penonton tentang Yu Ning yang menganggapnya sebagai sosok yang baik, care, berfikiran positif, ternyata dia sendiri gundah dengan keyakinannya, terlanjur malu sudah mengkoordinir ibu-ibu untuk tilik Bu Lurah malah Yu Ning salah info, apa lagi sempat bertemu dengan Dian dan Fikri yang terlihat akrab, selama ini yang berusaha Yu Ning luruskan kepada ibu-ibu ternyata bertolak belakang dengan yang ia fikirkan.


Apakah kita ini representasi dari Yu Ning? Yang mencoba berfikiran positif kepada seseorang, sementara kita tertipu dengan fikiran kita sendiri? 

Dian, yang digunjingkan ibu-ibu bisa jadi adalah masa muda kita yang penuh judgemental dari orang-orang sekitar kita. Sekolah kita, pekerjaan kita, umur kita, status kita, atau gerak laku kita secara tidak langsung menjadi perhatian khusus di masyarakat. Maka tidak heran ketika kita sedang berkumpul dengan tetangga atau keluarga besar kerap ditanya “kapan wisuda?”, “kok belum nikah?”, “kerjanya apa kok malam baru pulang?”, dan segala pertanyaan lain yang mengganggu fikiran. Hal-hal tersebut tidak bisa kita hindari karena tidak menutup kemungkinan pula kita ini adalah the next Bu Tedjo, the next Yu Ning, Bu Sam, Bu Tri, dan ibu-ibu lainnya yang tergabung dalam jamaah rasan-rasan.


Setelah melihat film ini aku justru menyadari bahwa masa mudaku dulu juga kerap digunjingkan seperti Dian dan benci dengan sosok ibu-ibu penggunjing di kampung, tetapi ketika aku berumah tangga dan banyak kenalan dengan ibu-ibu lainnya, aku malah bertransformasi jadi Bu Tedjo 😩 

Bu Tedjo adalah kita yang tertunda!

Senin, 23 Maret 2020

Ning Firda dan Renunganku tentang Akhlak

Saat itu pukul 10 pagi, Ning Firda mengabariku kalau sudah sampai di rumahku selepas syuting acara kiswah female TV9 di Surabaya, aku datang dan menyambut beliau dengan penuh rindu. Ning Firda mengajak dua temannya yang bernama Mbak Ulfi dan Mbak Marsya. Sesuai dengan janji kami beberapa hari yang lalu bahwa beliau ingin sowan ke ndalem Mbah Yai Husein, ulama kharismatik dari Mojokerto, dan sepulang dari Mbah Yai Husein kami juga berencana sowan Mbak Eny Kemeresek, seleb fb yang status-statusnya no drama, sesuai realita, bahasanya anti mainstream, Crazy Rich Mojokerto, dan orator inspirator ulung bagi perempuan yang ingin menikmati hidup dengan cara yang gila pula. Prinsip hidupnya adalah

“sambat hanya untuk orang yang lemah, kami kaum yang kuat lebih suka misuh”

Sebagai santri dari Mbah Yai Husein, aku berkenan mengantarkan Ning Firda beserta teman-teman dan pastinya aku bakal senang meskipun sekadar mengantarkan ke ndalem tanpa harus ikut sowan karena aku di sana akan bertemu dengan putra-putri dari Mbah Yai Husein yang merupakan sahabatku sejak kuliah, dan lagi gimana ya, ketemu guru itu rasanya ndredeg, mati gaya dengan segala kekikukan diri yang entah sulit untuk digambarkan. Setiap menjadi pengantar orang yang ingin bertemu dengan Mbah Yai Husein aku selalu sembunyi dan memilih ngobrol bersama putra-putri Mbah Yai setelah tugas selesai mengantarkan tamu sesuai alamat. Kecuali saat mengantar Ning Ienas dan Yai Ulil sowan Mbah Yai, aku nderekaken beliau karena aku bertugas menjadi dokumenter 😁

baju coklat Mbak Marsya, baju kuning Mbak Ulfi, baju ijo Ning Firda, dan aku yang mungil ini 😌

Di rumahku kami ngobrol tentang beberapa hal yang unfaedah seperti enaknya Bumbu Mahmudah yang dibikin ibu-ibu pengajian di Sidoarjo. Selebihnya kami bernarsis mugholadloh di ruang baca dan berbagi tips tentang kiat-kiat menjadi perempuan bahagia meski patah hati berkali-kali. Waktu berlalu hingga memasuki dzuhur, kami segera berangkat untuk sowan ke Mbah Yai Husein karena Ning Firda memiliki sederet jadwal show yang padat. Sebelum berangkat aku menghubungi Ning Shomma (salah satu putri mbah Yai Husein) terlebih dahulu bahwa kami akan on the way kesana, tapi belum sampai aku menyentuh layar untuk menghubungi Ning Shomma, Ning Firda mencegahku, beliau ngendikan

“Jangan dihubungi, kulo ke sana niatnya sowan, kalau ada berarti rezeki kulo, kalau beliau tindak atau wekdal istirahat biar kulo sekadar silaturrahim mawon mriko sama ning-ningnya”. (jangan dihubungi, saya ke sana niatnya bertemu Yai, kalau ada berarti rezeki saya, kalau beliau tidak ada di rumah atau waktunya istirahat biar saya silaturrahim ke sana dengan putri-putrinya)

Aku menimpali dengan perasaan mengharu biru

“Ning, baru kali ini kulo ngantarkan tamu Mbah Yai tanpa harus tanya beliau ada atau tidak ke putra-putrinya” 🥺

Ning Firda melanjutkan “Kulo itu senajan sama keponakan kulo mawon yang sudah jadi Kiai kulo ndak berani tanya dulu ada atau tidak kalau mau sowan ke beliau, karena keponakan kulo itu kyai muda, apalagi kyai sepuh seperti Mbah Yai Husein”. 

Saat itu aku benar-benar kagum dengan akhlak beliau, biasanya temen-temen yang datang dan tanya alamat Mbah Yai selalu menghubungiku lebih dulu untuk minta nomor abdi ndalem Mbah Yai atau nomor putra-putrinya Mbah Yai buat tanya Mbah Yai di ndalem atau tidak, untuk hal ini biasanya aku lihat-lihat sih kalau yang minta nomor masih muda biasanya tidak ku kasih tapi aku sarankan untuk sowan langsung saja. Yang keterlaluan pernah aku punya teman dari luar kota, dia menghubungiku katanya mau sowan dan aku disuruh tanya ke keluarga ndalem apakah Mbah Yai ada khawatir sudah jauh-jauh kesana eeeeeh Mbah Yai gak ada.

Mendengar hal tersebut aku jadi kebakaran bulu ketek, ingin ku marah dan bilang ya sudah gak usah sowan ribet amat. 

Hari makin terik feeling-ku nanti sore bakal hujan, kami segera berangkat menuju Karangnongko, sampai di ndalem Mbah Yai Husein jam 12.30, dan tidak diduga, Mbah Yai sedang bersantai sambil menikmati rokok di tirai rumah beliau, banyak tamu yang bercerita merasakan sulit sekali bertemu dengan beliau tapi kali ini Allah melancarkan silaturrahim ini. Kami bersyukur tiada kira, kami disambut oleh Ning Shomma, lalu langsung sungkem kepada Mbah Yai dan mencurhatkan beberapa masalah ummat 😁 sebenarnya tidak cukup waktu sebentar untuk bisa kami berlama-lama dengan beliau tapi mempertimbangkan banyaknya tamu yang sudah antri maka kami langsung izin pamit pulang, tidak ada sesi foto-foto karena bertemu dengan beliau pun bagi kami adalah rezeki. Pun Ning Firda, Mbak Ulfi atau Mbak Marsya yang meskipun datang dari jauh beliau-beliau tidak ingin ada sesi foto demi ta’dzim beliau semua kepada Mbah Yai Husein. 

Setelah sowan Mbah Yai kami menghubungi Mbak Eny, dan Mbak Eny mengajak janjian bertemu di Loodst Cafe, karena posisi saat itu Mbak Eny sedang berada di RS. Gatoel  menunggu Abahnya yang sedang gerah, dan RS berdekatan dengan kafe, kebetulan kafe Loodst adalah kafe milik Gus Fahmi, salah satu putra Mbah Yai Husein, dan Ning Shomma akhirnya berkenan ikut ke kafe karena Mbak Eny juga merupakan teman lama Ning Shomma, sampai di sana kami bertemu dan sudah heboh seperti bertemu teman lama, umur kami dengan Mbak Eny memang selisih sedikit, tapi soal pengalaman bercinta dan kehidupan Mbak Eny sepertinya sudah banyak melewati garam kehidupan, kepada Mbak Eny lah, Ning Firda, Mbak Marsya dan terutama Mbak Ulfi curhat tentang kisah cintanya, kisah cinta mereka sungguh rumit 😌 ada yang kandas, ada yang ditikung dan ada yang menanti lama jodoh 😁 lalu Mbak Eny memberikan nasihat yang anti mainstream

“Sudah, jangan tergesa-gesa untuk menikah, menikah itu menambah perkara, menambah cucian, menambah pekerjaan, pagi-pagi kalau jomblo enak bisa langsung beraktivitas untuk diri sendiri, kalau sudah menikah pagi-pagi bangun sudah disuruh bikin kopi buat suami, belum nanti kalau sudah punya anak, beneran kok nikah itu nambah biaya dan pekerjaan, sudah enak jomblo saja, menikmati kesendirian dengan penuh bahagia, kalau sudah waktunya dapat jodoh bakal datang sendiri” 🤣🤣🤣

Dan saya mengamini hal-hal semacam itu ketika merasakan bedanya jomblo dan menikah 😂😂😂

kanan depan Ning Shomma, belakang jilbab hijau itulah Mbak Eny yang gokil 😆

Setelah dirasa cukup kami mendabrus ria lalu kami berpamitan. Aku mengantarkan Ning Shomma pulang ke Karangnongko sedangkan Ning Firda, Mbak Ulfi dan Mbak Marsya kembali melakukan aktifitas dakwah 😁 mengikuti haul di Denanyar. 

Banyak pelajaran yang dapat aku ulang kembali saat bertemu dengan muda-mudi para dzurriyah ulama ini. Terutama tentang akhlak, yah. Akhlak bertamu, jangankan sowan Ulama yang pastinya juga memiliki banyak tamu. Kadang aku sendiri saja yang bukan orang penting dan keseharian di rumah mengasuh anak ketika ada orang bertamu tapi gak sopan ya jengkel banget, aku pernah punya pengalaman ada tamu yang gak cuma ketuk pintu tapi gedor-gedor pintu, dan tanpa jeda dok dok dok salamalaikum, dokdokdok salamalaikum, saat itu aku sedang menyusui anakku dan memakai daster pendek, you know lah bagaimana rempongnya emak berdaster kalau lagi nyusuin bayik pasti panik kalau tiba- tiba ada tamu, mau jejeritan dari dalem “tungguu woyyyy masih ganti baju” kok gak enak karena tamunya cowok, trus kalau teriak- teriak yah ntar bayinya kaget malah rewel, tapi suara di ujung pintu sana mulai senyap, kirain udah ngilang, dan ternyata suara berganti di tengah ruangan tepatnya di jendela tek tek tek salamalaikum. Aku teriak “iyaaa waalaikumsalam tunggu sebentar”, tapi tidak berhenti juga gedor-gedor jendela.

Tuhanku, nih orang pindah dari gedor-gedor pintu menuju gedor-gedor jendela kaca, akhirnya aku lepas aktivitas menyusui dan segera nyaut jilbab slobok’an dan lari untuk segera buka pintu karena siapa tahu itu orang mau nagih utang tapi salah alamat, sialnya bayiku mengikutiku hingga terjatuh dari kasur 😭 dan suara gedor-gedor tetap tidak berhenti 😭 walhasil, daripada aku menampakkan wajah kusutku di depan tamu atau tindakan lebih ekstrim lagi (nyelathu  misalnya), akhirnya aku wurung membuka pintu dan lebih memilih menggendong anakku yang menangis kejer karena habis jatuh dari kasur.

Aku ingat dulu waktu diajak bapak sowan ke Romo Yai Masbuhin, Suci Manyar Gresik, untuk menjemput pulang adikku yang mondok di sana, aku sampai di pesantren pukul 7 pagi perjalanan dari Surabaya, sampai di sana ndalem masih tutup dan Bapak menyuruhku untuk menunggu hingga ndalem terbuka, Bapak tidak ketuk pintu dan tidak juga salam, Bapak hanya menunggu di teras hingga jam 11 menjelang siang, ku tanya waktu itu karena aku lelah menunggu “Bapak kok dangu mboten salam nopo? Menawi Yai mboten semerap nek wonten sing bade sowan”, lalu Bapak menjawab “tidak usah, nek sowan iku ya sing sabar nunggu”. Lalu tidak lama kemudian abdi ndalem membuka pintu dan keluar rumah lalu barulah diaturkan Yai kalau ada tamu di luar, saat itu aku faham bagaimana adab ketika bertamu yang dicontohkan langsung oleh Bapak, pernah juga ke rumah teman dekat Bapak, Bapak menelfon terlebih dahulu ada atau tidak? Mengganggu atau tidak kalau mau ke sana? Sampai di sana bapak mengetuk pintu dan salam dengan jeda waktu, tidak beruntun, ketika orang di dalam rumah sudah menyahut, Bapak menunggu di teras rumah teman Bapak. Ketika berkunjung ke rumah saudara Bapak cukup salam tidak ujug-ujug buka pintu meskipun itu rumah saudara sendiri. 

Sebenarnya adab bertamu adalah adab yang paling mendasar dalam kehidupan bermasyarakat, seorang tamu memang ketika datang membawa rahmat dan ketika pulang membawa maghfiroh, tapi jangan sampai menjadi seorang tamu yang justru menghilangkan keberkahan dari silaturrahim. Begitu pula sebagai tuan rumah, hendaknya menjadi tuan rumah yang menyenangkan tamu-tamunya, disuguhkan sebaik-baiknya dan bersikap seramah-ramahnya.

Mojokerto, sebelum corona menyerang

Selasa, 17 September 2019

Seni Mencintai Diri Sendiri

Me, Myself and I

Mencintai diri sendiri mungkin terkesan sikap yang egois dan mengesampingkan orang lain. Juga identik dengan narsis. Tapi saya tidak hendak membahas tentang kenarsisan, lebih tepatnya menggeser paradigma tentang kebahagiaan, dari kebahagiaan yang bergantung pada orang lain menuju kebahagiaan yang lahir dari diri sendiri.

Terlalu banyak orang yang berkorban untuk yang lain sehingga melupakan dirinya sendiri. Dalam lingkup keluarga saja, seorang anak harus patuh oleh aturan-aturan seperti sekolah, kegiatan ekstra, harus bersih-bersih rumah membantu orang tua, cita-cita pun kadang masih dikendalikan oleh orang tua, sampai pada hal jodoh. Seorang istri mengabaikan dirinya sendiri demi melayani suami, seorang ibu mengabaikan dirinya sendiri demi merawat anak-anaknya. Ataupun sebaliknya, seorang suami yang mengabaikan dirinya karena menanggung beban dan tanggung jawab terhadap keluarga. Sehingga banyak yang terjebak dalam aktivitas membosankan setiap harinya, berfikir kapan liburnya, berfikir kapan selesainya, berfikir kapan kegiatan membosankan ini akan berakhir. Belum saja berhenti pada aktivitas tersebut kita sudah dihadapkan dengan masalah-masalah yang tidak diharapkan seperti target yang tidak terpenuhi, hasil yang kurang memuaskan atau hal-hal lain yang menunjukkan hasil tidak sempurna bagi seorang perfeksionis, idealis tapi tidak realistis. Otak dipaksa berfikir, hati tergerus dan merasa tersiksa, lalu tinggallah stres, depresi dan datanglah penyakit.

Mencintai diri sendiri

Bagi saya yang kini seorang istri dan ibu, tidak ada yang lebih saya nikmati daripada meraih kebahagiaan untuk diri saya sendiri, saya selalu berusaha membahagiakan diri saya sendiri. Contoh kecil saja, untuk urusan perut, saya harus menjadi orang yang kenyang terlebih dahulu sebelum suami dan anak-anak, terdengar egois bukan? Pagi saya masak lalu makan hingga kenyang, kemudian ngopi, setelah itu anak-anak dan suami saya bangunkan untuk mandi dan menemani mereka makan. Untuk hal memasak, anak-anak saya utamakan makan di rumah, sedangkan saya jika tidak berselera akan mencari makan di luar. Dengan itu saya menjadi ibu yang berbahagia karena merawat rumah dan seisinya dalam keadaan bahagia. 

Saya suka nonton, tapi saya memiliki 3 balita. Saya akan pergi menonton bersama adik-adik atau teman saya, sedangkan suami di rumah menunggu anak-anak, pada kesempatan yang berbeda, saya menunggu anak-anak di rumah sedangkan suami pergi ngopi sampai larut malam bersama teman-temannya. Saya tidak marah ataupun merasa berat ketika suami pergi nongkrong bahkan pergi ke luar kota sampai beberapa hari lamanya, karena saya berbahagia dengan diri sendiri, ada atau tidak adanya suami saya tetap berbahagia. Begitu pula dengan suami, ketika kami sedang berada pada jarak yang jauh, kami berbahagia karena kami serasa dekat dan saling percaya.

Rumah kotor? Ya dibersihkan, karena saya bahagia memiliki rumah yang bersih, tapi ketika rumah kotor dan kondisi sudah capek? Ya istirahat sejenak, memilih hal mana yang lebih membahagiakan dengan beristirahat atau sekadar berselancar di dunia maya, tidak perlu memaksa rumah selalu bersih layaknya hotel.

Pada kehamilan ke-6 saya, usia kandungan 7 bulan saya merasa sedih sekali saat dokter kandungan menyatakan bayi saya tidak sehat karena detak jantungnya melemah, 2 opsi yang harus ditempuh adalah dilahirkan saat itu juga tapi tidak menjamin bayi selamat atau ditunggu kelahirannya dengan didrop obat penguat. Saya memilih opsi kedua, dan berhasil melahirkan normal usia 8 bulan, namun tidak lama saya kehilangannya. Sedih? Ya. Tapi jika dibandingkan dengan  apabila dia lahir dan sakit-sakitan itu akan lebih menyakitkannya, dan saya lebih bahagia dengan kehilangannya, saya setuju dengan skenario Tuhan tentang dia, Adiba. Begitulah caraku menggeser paradigma bahwa bahagia diperoleh dari diri sendiri

Saya berpendidikan tinggi bukan agar mendapat jodoh yang setara dengan pendidikan saya, saya sekolah tinggi bukan agar kelak anak-anak saya bangga jika ibunya berpendidikan tinggi. Tapi sebagai wujud rasa terima kasih saya kepada Tuhan atas nikmat akal yang diberi. Kalaupun buah dari pendidikan saya adalah menjadikan bermanfaat bagi keluarga juga orang lain, akan bertambahlah rasa syukur saya.

Berbahagia dengan diri sendiri, bahkan jika kita menyadari atas keadaan kita: saya kurus, saya tidak cantik, saya tidak punya uang, dan saya berbahagia dengan melakukan hal yang membuat saya bahagia, tidak menggantungkan pada hal-hal lain yang membuat saya tidak bahagia. Bahagia dengan diri sendiri, bahkan ketika orang-orang yang kita cintai berubah tidak seperti yang kita inginkan atau orang-orang yang kita cintai menjauh atau tidak ada di sisi kita, kita tetap berbahagia.

Berbahagia itu tidak memedulikan ocehan orang lain, tidak memedulikan gunjingan orang lain. Ada banyak hal yang membuat saya bahagia: buku, kopi, komputer, swafoto dengan sedikit filter dan fitur edit, menulis, komputer, skincare, make up, mi instan. Membaca adalah bentuk kebahagiaan, kopi adalah pelengkap hidup, terobsesi dengan komputer, skincare dan make up adalah naluri keperempuanan untuk merawat keindahan wajah dan tubuh, lalu selfi dan bahagia melihat hasil foto bagus, mi instan adalah me time terdahsyat saat malam tiba.

Mencintai diri sendiri karena menyadari bahwa setiap dari kita merupakan mahakarya Tuhan Yang Mahaindah. Berbahagia dengan diri sendiri sejatinya adalah menyadari bahwa diri sendiri adalah berharga paling tidak untuk diri sendiri.


Ketika kita mencintai diri sendiri, kita mampu jujur pada diri sendiri

Ketika kita jujur pada diri sendiri, kita mampu mengenali diri kita sendiri,

Ketahuilah ketika kita mengenali diri sendiri, kita selesai dengan diri kita sendiri.

Ketika kita selesai dengan diri sendiri, kita pun mampu selesai dengan orang lain.

Sabtu, 06 Juli 2019

Takzir Pesantren di Era Milenial Pengguna Digital



Tidak bisa dipungkiri sejak munculnya gerakan #AyoMondok, pesantren menjadi sorotan tersendiri di era digital, apa lagi pesantren merupakan wujud khazanah kebudayaan Islam dalam mempertahankan disiplin keilmuan Islam. Termasuk tradisi dan sesuatu hal yang terjadi di dalam pesantren, di mana kejadian tersebut adalah hal yang unik dan tidak biasa terjadi di luar lingkup pesantren, seperti beredarnya video perusakan hp santri yang terciduk pengurus di pesantren. Videonya sudah pernah viral, eh viral lagi, viral lagi.. 

jepretan layar video viral penghancuran HP santri
Lalu seperti biasa:




Netizen ramai-ramai maedo, maedo adalah nyinyir, nyinyir tanpa tahu bagaimana duduk permasalahannya. Gak peduli masalahnya apa pokoknya ya nyinyir aja. Mulai dari dalih mubadzir sampai keringat orang tua untuk belikan anaknya hape. *lha sopo kongkon nukokke anake hape 🙄

Jadi begini Bambhank.. Bagi kami, santri yang telah atau masih mondok belasan bahkan puluhan tahun, pemandangan seperti itu bukan hal yang mengejutkan. Tapi di medsos seolah menjadi sesuatu yang luar biasa dan bentuk kedzaliman yang haqiqi, saya jujur sangat gerah dengan pernyataan-pernyataan yang menyudutkan pihak pesantren.

Bagi anda netizen budiman yang tidak pernah mondok di pondok pesantren. Saya deskripsikan bagaimana cara kerja pesantren membentuk karakter santri hingga siap terjun menghadapi masyarakat juga menghadapi anda-anda yang suka protesan ini; pesantren memiliki beberapa tatib (tata tertib) yang tertera, tatib itu mencakup 3 hal; 


  • Ketertiban umum yang terdiri dari kedisiplinan, kebersihan, kerapian, sopan santun, cara berpakaian, bahasa, dsb. 
  • Lalu ada beberapa poin yang menjadi bentuk pelanggaran-pelanggaran dalam pesantren, terdiri dari pelanggaran ringan, sedang dan berat. 
  • Dituliskan juga dalam tatib tentang takziran atau hukuman-hukuman sebagai konsekuensi dari peraturan yang dilanggar oleh santri. Hukuman diberikan sebagai efek jera bagi para santri agar tidak lagi melanggar peraturan. Dan semua hal tersebut telah menjadi kesepakatan semua pihak, baik dari pihak pesantren - santri - wali santri.

Nah, membawa barang elektronik (hp, mp3, mp4, walkman, radio, tv) merupakan salah satu dari pelanggaran tatib pesantren, karena pesantren merupakan ‘penjara suci’, tidak menghendaki adanya hiburan yang bersifat duniawi karena diharuskan fokus pada pendalaman ilmu agama (trus hiburannya apa? Tanya saja bagaimana cara santri berbahagia dengan sederhana tanpa perlu barang-barang elektronik). Dan saya rasa peraturan larangan membawa barang elektronik semacam “ijtimak” seluruh pesantren di Indonesia, terutama pesantren salaf. Saya ingat film 3 doa 3 cinta, satu-satunya film representatif pesantren yang diperankan Babang Nicolas, saat salah satu santri ketahuan membawa radio dia nyeletuk bilang “gimana bisa maju kalau dengerin radio di pesantren aja gak boleh”, lalu temannya menimpali “kalau mau maju ya baca buku”. Nah ini saya sangat setuju.

Kembali lagi ke tatib, konsekuensi dari pelanggaran adalah takziran, dan takziran terbaik untuk santri yang membawa hp adalah dihancurkan, bukan malah dikembalikan ke wali santri atau dilelang lalu uangnya untuk pembangunan/sumbangan karena justru akan melahirkan asumsi bahwa pesantren tidak tegas dan masih hubbud dun-ya 😂

Saat menjadi pengurus pesantren, saya sudah biasa menghancurkan hp android dan blackberry. Hp harga mulai ratusan ribu sampai jutaan, meskipun jiwa misqueenku menjerit saat itu karena hp ku sendiri masih hp poliponik 😌😭 tapi peraturan tetaplah peraturan, wajib dijalankan. Saya juga pernah menghancurkan 3x hp blackberry dengan pemilik yang sama, dihancurkan dibelikan lagi dihancurkan dibelikan lagi, wali santri horang kayah bebass. Tapi bertahan sampai hp ke-3 setelah itu ortunya kapok sak anak-anaknya.

Setiap lembaga, setiap tempat memiliki hak untuk berotonom yang tidak bisa kita terobos seenaknya saja.

Tatib pesantren ini senada dengan kebijakan yang dilakukan oleh Mentri Kelautan, Bu Susi Pujiastuti. Bu Susi sudah membakar juga menenggelamkan kurang lebih 500 kapal. Mengapa beliau begitu tegas menenggelamkan kapal padahal memusnahkan kapal itu susah, apalagi kayunya besar dan dari besi. Supaya bikin bombastis, maka Bu Susi harus tembak pakai dinamit. Mengapa tidak dilelang saja? Atau dirombengkan misalnya 🙄 kan lumayan harga kapal mencapai ratusan hingga milyaran? Hellow kita punya peraturan, kalau ada yang salah ya dihukum, kita bukan perampok yang menjarah kapal-kapal tersebut sebagai pemasukan negara, gak elit cyyyyn, biar saja mereka jera. Biar kapal-kapal yang hilir mudik nyolongi ikan di laut kita ini takut. Ini menyangkut marwah bangsa yang tidak bisa kita biarkan diinjak-injak.

jangan tenggelamkan hatiku dalam lautan rindu, Buk -_- *helah bucin 

Eh iya, kalau cuma sekadar menghancurkan hp sih masih biasa banget, mungkin anda-anda belum pernah merasakan atau minimal nonton tragedi:


  • Disiram air comberan karena ketahuan pacaran
  • Tangan dipukul sama Kiai dengan penjalin karena tidak lancar setoran hafalan Alfiah atau hafalan Al-Qur'an (kalau di zaman sekarang pasti orang tua sudah lapor ke polisi lalu gurunya dipenjara, sedih ga sih :'( )
  • Digundul karena ketahuan mengambil barang teman (ghosob)
  • Dijemur di tengah halaman karena ketahuan surat-suratan sama lawan jenis di pondok
  • Pakai jilbab mejikuhibiniu karena ketahuan pakai kaos seksi 
  • Dibully atau disuruh-suruh santri senior karena masih lugu sebagai santri baru
  • Disuruh bersihkan kamar mandi seminggu berturut-turut karena ketahuan tidak berbahasa Arab atau Bahasa Inggris saat hari bahasa
  • Makan mie wadah plastik
  • Minum es bareng-bareng di cebok
  • Kopinya segelas yang minum seasrama ngaduknya pake pulpen
  • Tidur bersama tanpa kasur dan tentunya berkutu jamaah 
  • Ngantri kamar mandi sampai berjam-jam

Ya, itu semua adalah takziran dan kebiasaan yang hanya bisa dilakukan oleh santri. So, tidak usah dibesar-besarkan lah urusan menghancurkan hp di pesantren, situ palingan juga pernah greget pingin banting hape kalau wa cuma dibaca doang ga dibales padahal statusnya doi lagi onlen 🙄

Nganu, jen netijen.. Jangan lupa makan ikan biar tidak ditenggelamkan Bu Susi berfikir lebih jernih sebelum memviralkan sesuatuh 

Error 404

The page you were looking for, could not be found. You may have typed the address incorrectly or you may have used an outdated link.

Go to Homepage