Kamis, 22 Desember 2011

Jodoh di tangan siapa?

Posted by Uswah on Kamis, Desember 22, 2011 with No comments
“Aku tak berharap menikah dengan lelaki yang aku cintai, tapi aku berharap mencintai laki-laki yang aku nikahi”
Hehehe... kata-kata ini aku dapat dari kutipan sebuah novel yang beberapa taun lalu aku liat di gramedia, aku lupa judulnya, apalagi pengarangnya, malah dobel lupa... hehehe (ketawa lagi), kutipan ini juga pernah aku posting beberapa taun lalu di blogku yang satunya dengan judul Ternyata Jodoh tidak di Tangan Tuhan berdasarkan pengalaman teman :p lucu aja sih, atau terlihat konyol, meskipun toh banyak sekali sampel kehidupan di sekitar kita yang menikah tanpa variabel cinta juga langgeng, tapi memang kadar cinta itu mempengaruhi perjuangan seseorang untuk meraih cinta hingga dikuduskan dalam ikatan pernikahan (mitsaqan ghalidza),, ada yang menganggap perjuangan cinta itu hanya sebatas kata-kata (gombal mukiyo) tetapi jika sang korban tidak berhasil digombali, maka akan mencari korban lain, cinta macam ini banyak ditemukan di cyber love social networking (opo iki?), pendek kata: fesbuk :p ada yang uda pacaran lama akhirnya pisah karna dipisahin ortu atau emang salah satunya beda keyakinan (situ yakin, sini gak yakin :p) maka akhirnya pasrah, seperti ungkapan sad ending pengalaman seseorang yang ku tulis di sini :D ada juga yang bertindak super bodoh dengan bunuh diri... capedeeeeeh fiuh, ngapaeeen juga? Martabak Pak Sokip masih enak :p


Ada saatnya cinta membutuhkan pengorbanan, pengorbanan segila apapun asal tak sampai melanggar syariat, sebagaimana gilanya qais pada laila, begitu pula sebaliknya, ada saatnya kita melawan qodlo' kehidupan yang berupa jodoh sebelum akhirnya menjadi takdir, aku membaca jodoh adalah seperti tulang daun, dimana aku memilih satu dari beberapa tulang yang semburat di lembar daun itu, maka disitulah jodohku berada, aku tetap mempercayai jodoh ada di Tangan Tuhan, tapi Tuhan menganugrahkan perasaan yang berupa cinta sebagai modal untuk berikhtiar, dan aku... akan berjuang sampai titik darah penghabisan (halah) demi bisa bersanding dengan kekasihku, meskipun perjuanganku untuk saat ini hanya dia(m).

Aku tak mau berpedoman dengan kata-kata yang dikutip di novel itu, aku ingin menikahi lelaki yang aku cintai, dan ketika aku menikahinya, aku akan tetap bisa mencintai, menyayangi dan mencurahkan segalaku buatnya, sebab dia adalah kehormatanku yang kan kujaga selamanya :*

0 komentar

Posting Komentar

Budayakan berkomentar  ヽ(^。^)ノ

Cancel Reply