Sabtu, 06 Juli 2019

Takzir Pesantren di Era Milenial Pengguna Digital

Posted by Uswah on Sabtu, Juli 06, 2019 with No comments
Tidak bisa dipungkiri sejak munculnya gerakan #AyoMondok, pesantren menjadi sorotan tersendiri di era digital, apa lagi pesantren merupakan wujud khazanah kebudayaan Islam dalam mempertahankan disiplin keilmuan Islam. Termasuk tradisi dan sesuatu hal yang terjadi di dalam pesantren, di mana kejadian tersebut adalah hal yang unik dan tidak biasa terjadi di luar lingkup pesantren, seperti beredarnya video perusakan hp santri yang terciduk pengurus di pesantren. Videonya sudah pernah viral, eh viral lagi, viral lagi.. 

jepretan layar video viral penghancuran HP santri
Lalu seperti biasa:




Netizen ramai-ramai maedo, maedo adalah nyinyir, nyinyir tanpa tahu bagaimana duduk permasalahannya. Gak peduli masalahnya apa pokoknya ya nyinyir aja. Mulai dari dalih mubadzir sampai keringat orang tua untuk belikan anaknya hape. *lha sopo kongkon nukokke anake hape 🙄

Jadi begini Bambhank.. Bagi kami, santri yang telah atau masih mondok belasan bahkan puluhan tahun, pemandangan seperti itu bukan hal yang mengejutkan. Tapi di medsos seolah menjadi sesuatu yang luar biasa dan bentuk kedzaliman yang haqiqi, saya jujur sangat gerah dengan pernyataan-pernyataan yang menyudutkan pihak pesantren.

Bagi anda netizen budiman yang tidak pernah mondok di pondok pesantren. Saya deskripsikan bagaimana cara kerja pesantren membentuk karakter santri hingga siap terjun menghadapi masyarakat juga menghadapi anda-anda yang suka protesan ini; pesantren memiliki beberapa tatib (tata tertib) yang tertera, tatib itu mencakup 3 hal; 


  • Ketertiban umum yang terdiri dari kedisiplinan, kebersihan, kerapian, sopan santun, cara berpakaian, bahasa, dsb. 
  • Lalu ada beberapa poin yang menjadi bentuk pelanggaran-pelanggaran dalam pesantren, terdiri dari pelanggaran ringan, sedang dan berat. 
  • Dituliskan juga dalam tatib tentang takziran atau hukuman-hukuman sebagai konsekuensi dari peraturan yang dilanggar oleh santri. Hukuman diberikan sebagai efek jera bagi para santri agar tidak lagi melanggar peraturan. Dan semua hal tersebut telah menjadi kesepakatan semua pihak, baik dari pihak pesantren - santri - wali santri.

Nah, membawa barang elektronik (hp, mp3, mp4, walkman, radio, tv) merupakan salah satu dari pelanggaran tatib pesantren, karena pesantren merupakan ‘penjara suci’, tidak menghendaki adanya hiburan yang bersifat duniawi karena diharuskan fokus pada pendalaman ilmu agama (trus hiburannya apa? Tanya saja bagaimana cara santri berbahagia dengan sederhana tanpa perlu barang-barang elektronik). Dan saya rasa peraturan larangan membawa barang elektronik semacam “ijtimak” seluruh pesantren di Indonesia, terutama pesantren salaf. Saya ingat film 3 doa 3 cinta, satu-satunya film representatif pesantren yang diperankan Babang Nicolas, saat salah satu santri ketahuan membawa radio dia nyeletuk bilang “gimana bisa maju kalau dengerin radio di pesantren aja gak boleh”, lalu temannya menimpali “kalau mau maju ya baca buku”. Nah ini saya sangat setuju.

Kembali lagi ke tatib, konsekuensi dari pelanggaran adalah takziran, dan takziran terbaik untuk santri yang membawa hp adalah dihancurkan, bukan malah dikembalikan ke wali santri atau dilelang lalu uangnya untuk pembangunan/sumbangan karena justru akan melahirkan asumsi bahwa pesantren tidak tegas dan masih hubbud dun-ya 😂

Saat menjadi pengurus pesantren, saya sudah biasa menghancurkan hp android dan blackberry. Hp harga mulai ratusan ribu sampai jutaan, meskipun jiwa misqueenku menjerit saat itu karena hp ku sendiri masih hp poliponik 😌😭 tapi peraturan tetaplah peraturan, wajib dijalankan. Saya juga pernah menghancurkan 3x hp blackberry dengan pemilik yang sama, dihancurkan dibelikan lagi dihancurkan dibelikan lagi, wali santri horang kayah bebass. Tapi bertahan sampai hp ke-3 setelah itu ortunya kapok sak anak-anaknya.

Setiap lembaga, setiap tempat memiliki hak untuk berotonom yang tidak bisa kita terobos seenaknya saja.

Tatib pesantren ini senada dengan kebijakan yang dilakukan oleh Mentri Kelautan, Bu Susi Pujiastuti. Bu Susi sudah membakar juga menenggelamkan kurang lebih 500 kapal. Mengapa beliau begitu tegas menenggelamkan kapal padahal memusnahkan kapal itu susah, apalagi kayunya besar dan dari besi. Supaya bikin bombastis, maka Bu Susi harus tembak pakai dinamit. Mengapa tidak dilelang saja? Atau dirombengkan misalnya 🙄 kan lumayan harga kapal mencapai ratusan hingga milyaran? Hellow kita punya peraturan, kalau ada yang salah ya dihukum, kita bukan perampok yang menjarah kapal-kapal tersebut sebagai pemasukan negara, gak elit cyyyyn, biar saja mereka jera. Biar kapal-kapal yang hilir mudik nyolongi ikan di laut kita ini takut. Ini menyangkut marwah bangsa yang tidak bisa kita biarkan diinjak-injak.

jangan tenggelamkan hatiku dalam lautan rindu, Buk -_- *helah bucin 

Eh iya, kalau cuma sekadar menghancurkan hp sih masih biasa banget, mungkin anda-anda belum pernah merasakan atau minimal nonton tragedi:


  • Disiram air comberan karena ketahuan pacaran
  • Tangan dipukul sama Kiai dengan penjalin karena tidak lancar setoran hafalan Alfiah atau hafalan Al-Qur'an (kalau di zaman sekarang pasti orang tua sudah lapor ke polisi lalu gurunya dipenjara, sedih ga sih :'( )
  • Digundul karena ketahuan mengambil barang teman (ghosob)
  • Dijemur di tengah halaman karena ketahuan surat-suratan sama lawan jenis di pondok
  • Pakai jilbab mejikuhibiniu karena ketahuan pakai kaos seksi 
  • Dibully atau disuruh-suruh santri senior karena masih lugu sebagai santri baru
  • Disuruh bersihkan kamar mandi seminggu berturut-turut karena ketahuan tidak berbahasa Arab atau Bahasa Inggris saat hari bahasa
  • Makan mie wadah plastik
  • Minum es bareng-bareng di cebok
  • Kopinya segelas yang minum seasrama ngaduknya pake pulpen
  • Tidur bersama tanpa kasur dan tentunya berkutu jamaah 
  • Ngantri kamar mandi sampai berjam-jam

Ya, itu semua adalah takziran dan kebiasaan yang hanya bisa dilakukan oleh santri. So, tidak usah dibesar-besarkan lah urusan menghancurkan hp di pesantren, situ palingan juga pernah greget pingin banting hape kalau wa cuma dibaca doang ga dibales padahal statusnya doi lagi onlen 🙄

Nganu, jen netijen.. Jangan lupa makan ikan biar tidak ditenggelamkan Bu Susi berfikir lebih jernih sebelum memviralkan sesuatuh 

0 komentar

Posting Komentar

Budayakan berkomentar  ヽ(^。^)ノ

Cancel Reply