Rabu, 28 September 2011

Qiro’ah sab’ah susah banget yaaa

Posted by Uswah on Rabu, September 28, 2011 with 6 comments
Kalo dengerin suaranya Qori' Internasional Muammar ZA di kaset-kaset kayaknya enak bangeeet gitu, terbayang kerumitannya kayak apa, rasa penasaran itu membuatku membulatkan tekad untuk belajar pada seorang guru qiro’ah tujuh yaitu K.H. Syaifuddin Al-hafidz dari mojokerto, beliau lulusan pesantren tahfidz Krapyak, Jogja, beliau mampu menghafalkan Al-Qur’an kurun waktu hanya 8 bulan saja, dan belajar Qiro’ah Sab’ah selama tiga taun di pesantren yang sama, beliau kesehariannya adalah membimbing para santri laki-laki dan perempuan di Pondok Pesantren Tahfidz milik beliau sendiri dan mengajar kitab di sebuah pesantren yang saat ini aku tempati, aku sepakat untuk belajar seminggu 2x yaitu hari senin dan jum’at, usai mengajar kitab, beliau selalu menyempatkan waktu yang tidak sedikit, cukup lama untuk mendengarkan setoran muroja’ah Al-Qur’anku dan mengajarkan tekhnik qiro’ah sab’ah, beliau mengajarkan secara talaqqi (face to face).. awal pembelajaran, beliau mengenalkan sejarah dari qiro’ah sab’ah, beliau menjelaskan bahwa kita ini ahli bid’ah karena memakai Qur’an bid’ah.. hihihi

Zaman Kanjeng Nabi dulu Al-Qur’an hanya dihafalkan tanpa ditulis, baru ditulis dan dikodifikasikan ketika zaman Khalifah Utsman bin Affan, dan itupun penulisannya tidak seperti Al-Qur’an yang ada di tangan kita saat ini, ada titik dan harokatnya, dulu hanya ada rangkaian-rangkaian huruf arab tanpa titik dan sebagian periwayatan menyatakan bahwa Al-Qur’an memiliki warna, jadi kalo ba’ itu warnanya merah, dan yang laen aku lupa,, yang aku inget cuma warna favoritku merah, jatuh pada huruf ba’ :D nah karena tidak adanya harokat dan titik pada Al-Qur’an, orang-orang yang hafal Al-Qur’an zaman dahulu melantunkan Al-Qur’an sesuai dengan bacaan yang mereka fahami dan lahjah di daerah masing-masing, dan yang disepakati oleh ulama ahlul Qurro’ wal Hufadz adalah Qiro’ahnya 7 orang yakni: Qiro’ah harfaan (Nafi’ diriwayatkan oleh Qolun dan Warasy, Ibnu katsir diriwayatkan oleh al-Bazi dan Qonbul), Qiro’ah Al-bashry (Abu ‘Amru diriwayatkan oleh Ad-Dury dan As-Susy), Qiro’ah Asy-Syami (Ibnu Amr diriwayatkan oleh Hisyam dan Ibnu Dzakwan), Qiro’ah Al-Kufiyun (‘Ashim diriwayatkan oleh Sya’bah dan Hafs, Hamzah diriwayatkan oleh Kholaf dan Kholad, Ali Al-kisa’i diriwayatkan oleh Abul Harist dan Hafs ad-Dury)

Dan Alhamdulillah agak bingung juga menghafal periwayatan para imam Qurro’ sab’ah, itu adalah dasarnya, kata beliau.. dan di tiap-tiap bacaan biasanya ada sampai belasan dan puluhan bacaan yang dibaca berbeda-beda, jadi bukan berarti Qiro’ah Tujuh lalu setiap ayat dibaca tujuh kali sesuai dengan jumlah imam 7-nya, tidak semua ayat bisa diqiro’ah 7, tapi ayat-ayat tertentu saja, dan ternyata tidak hanya perayat, bahkan tiap kata itu juga memiliki berbagai bacaan, kalau dalam ilmu Qiro’ah 7 bacaan-bacaan Qiro’ah 7 disebut wajah, misal dalam surat Al-fatihah, ayat 1, 2, dan 5 tidak ada khilaf, baru pada ayat 3 dan 4 memiliki 3 wajah, ayat 6 memiliki 3 wajah, ayat 7 memiliki 5 wajah.. susah banget, bener-bener susah, apalagi jika sudah jatuh pada Qiro’ah imam Hafs yang sepertinya tidak sesuai dengan karakter suara dan nafasku yang pendek, jadi keliatan ngotot juga tersengal-sengal :D “halah, ambekan citek ora ngampek suarane”, (halah, nafasnya pendek suaranya gak sampai”) begitu ngendikan beliau kalo lagi ngece bacaanku :p kita tidak hanya diajarkan cara membacanya yang unik-unik, tapi juga harus hafal, bacaan seperti ini dari imam siapa dan bacaan ini periwayatannya apa, tidak heran kalau yai Syaifuddin menghafal Al-Qur’an hanya beberapa bulan tapi membutuhkan waktu 3 tahun untuk menguasai Qiro’ah Sab’ah..

Beliau banyak mengkritik bacaan Muammar ZA yang menyalahi kaidah Qiro’ah Sab’ah, beliau juga memberikan alasan letak penyimpangan dari bacaan Qori’ internasional tersebut, tapi jika dalam forum musabaqoh yang waktunya terbatas ya boleh-boleh saja dipraktekkan, beliau mengucapkannya dengan tertawa sedikit :D yaah setauku beliau orang yang sangat teliti sekali terhadap bacaan Al-Qur’an, beliau bercita-cita untuk bisa mencetak Al-Qur’an versi Qiro’ah 7 agar memudahkan para penghafal Al-Qur’an untuk mendalami bacaan 7, dan itu diucapkan berkali-kali setiap selesai mengajar, betapa kuat keinginan beliau, aku hanya bisa manut, mendukung dan mendoakan beliau sebagai pejuang Al-Qur’an… Satu pesan beliau yang sangat dalam “nduk, ojok ruwet-ruwet dadi wong, gak cukup ta nduwe Qur’an?”… "+*;#&!)(#*!&&&;;#*+=:)@"

6 komentar

wow .... ternyata ya kamuh ... bisa qiro' .. ajarin dong, hehehe, pernah dulu belajar, tapi gak ngudeng juga,kalo gak salah ada namanya jawabul jawa, apalagi ya, hmmm ... lupa, salute! :D
aduh om, qiroah 7 itu ruwett jiddan fauqo jiddin :o
Delete
emang, saya aja nyerah, hehehe, kapan2 di rekam ya, suaranya, biar oks gituh :D
Delete
tapi tidak untuk qiro'ahnya imam hafs ya? bisa megap2 hehehee
Delete
ya udah qiro'ahnya siapa aja deh, asal jangan qiro'ah stupid monkey, jelek dia, haha :D
Delete
ReplyDelete
ayu Diah mengatakan... 5 Mei 2013 04.02
mbak... saya pengen banget belajar qiroah...tapi nggak ada pembimbingnya. .. :( saya bingung cari guru qiroah dimana??
ReplyDelete

Posting Komentar

Budayakan berkomentar  ヽ(^。^)ノ

Cancel Reply