Siapa Kita di Film Tilik?

Main Posts Background Image

Main Posts Background Image

Kamis, 20 Agustus 2020

Siapa Kita di Film Tilik?


Jagat maya heboh dengan film pendek berdurasi 32 menit berjudul “Tilik” produksi Ravacana Films yang diunggah di channel youtube-nya. Film dengan konsep one shot dan setting pedesaan yang hijau dan asri ini benar-benar memanjakan mata penonton. Menariknya, dialog dalam film ini memakai bahasa Jawa khas Yogyakarta sesuai dengan latar tempat film, sehingga terlihat natural bukan seperti film. Disediakan juga terjemahan dalam bahasa Indonesia.  

Tilik berasal dari bahasa Jawa yang artinya menjenguk, budaya tilik sangat kental di masyarakat Indonesia, ada tilik bayi, tilik manten, tilik wong loro, tilik mangkat umroh/haji, tilik bali umroh/haji, tilik pindah omah, dll. 

Tilik yang dimaksud dalam film ini adalah tilik wong loro, atau menjenguk orang sakit. Saat itu yang sakit adalah Bu Lurah, dan ibu-ibu sekampung berangkat ke rumah sakit menjenguk Bu Lurah naik truk. 

Ini loh yang kental di masyarakat pedesaan, mereka bahu-membahu dalam keadaan apapun. Hubungan sosialnya begitu erat, jika mendengar ada yang sakit maka segera merapat untuk menjadwalkan tilik secara rombongan, mereka tidak berangkat dengan kendaraan masing-masing, tapi bersama-sama menyewa bus, pikap, atau truk. Aku pernah melihat rombongan ibu-ibu naik truk untuk mengikuti pengajian umum yang diadakan di suatu desa, jujur melihat semangat ibu-ibu naik truk untuk mengikuti pengajian sempat membuat pipiku basah karena terharu. Mereka tidak peduli dengan bagaimana hidup perempuan-perempuan sosialita di luar sana, membawa bekal jajanan, duduk ndeprok, pakaian sederhana, sesekali pamer emas yang dikenakan di jari dan pergelangan tangan. Pamer gadget can’t relate. Begitulah gambaran ibu-ibu di film Tilik.

Konflik dalam film dimulai dari sebuah dialog pertanyaan Bu Sam kepada Bu Tedjo “Fikri ki karo Dian po bener sesambungan toh, Buk?”. 



Pertanyaan ini semacam pemantik api pergosipan. Jiwa perghibahan emak-emak pasti ikut bergetar mendengarkan muqoddimah dari Bu Sam. 

Bu Sam di film ini adalah tipikal orang yang suka memancing permasalahan dan tahu betul karakter dari target umpannya, bisa jadi Bu Sam sudah tahu gosip tentang Dian, tapi dia lebih suka menampar dengan meminjam tangan orang lain. 

Di kehidupanmu ada orang seperti Bu Sam? Atau jangan-jangan itu kita?, aku? Atau justru bahkan sebaliknya, Bu Sam adalah orang polos, bukan orang picik gemar memancing masalah. Ya, Bu Sam emang penasaran saja sama Dian dan gak nyangka kalau masalahnya jadi perdebatan panjang antar ibu-ibu? Kamu pernah di posisi ini? Cuma niat bercanda atau malah keceplosan ngomong apa ternyata jadi awal munculnya masalah?

Bu Tedjo pun tak kuasa untuk mengeluarkan bakat lambe turahnya. Sepanjang perjalanan di atas truk Bu Tedjo menyampaikan beberapa informasi penting tentang Dian disertai bukti-bukti kuat yang dia dapatkan dari sosmed Dian.


Ibu-ibu yang lain pun semakin khusyuk dalam perghibahan yang diketuai oleh Bu Tedjo; Dian yang keluar masuk hotel, jalan-jalan ke mall dengan om-om, muntah-muntah kayak orang hamil, baru kerja sudah punya hp baru, motor baru dan barang-barang bermerk.

“Iso koyo ngunu”
“Astaghfirullohal adzim iso dempel-dempelan ngunu” 
“Aku mari ndelok fotone Dian iso mrinding kabeh awakku”

Sangat gurih bukan? Begitulah sahut-sahutan ibu-ibu membicarakan Dian, kembang desa pujaan para lelaki lajang dan beristri yang dikabarkan dekat dengan Fikri, anak Bu Lurah. 

Bu Tedjo di sini tipikal orang yang nyinyir, merasa benar, percaya diri, cerewet, influencer dengan kearifan lokal, buzzer sejati. πŸ˜„

Bu Tedjo be like;


Apakah kita tipikal Bu Tedjo? Yang merasa bergairah dan bersemangat ketika membicarakan aib orang lain? 

Sedangkan Yu Ning (masih saudara dengan Dian) selalu mengarahkan Bu Tedjo untuk berpikiran positif, tidak mudah menerima informasi yang belum jelas fakta dan bukti-buktinya. Yu Ning selalu husnudzon, tapi banyak yang tidak berada di pihaknya.


Apakah kita ini Yu Ning? Berusaha menangkal informasi yang beredar karena kurang kredibelnya suatu berita, atau karena informasi itu ditujukan kepada orang-orang terdekat kita atau orang yang kita sayangi?

Ingat dengan pilpres 2019? Semua berita akan dianggap hoax jika berita negatif itu ditujukan kepada pilihan kita. 

Bu Tri, diceritakan di sini adalah tim sukses Bu Tedjo dalam hal perghibahan. Bu Tri ini tipikal majas hiperbola, menambah-nambahi info tentang kejelekan Dian yang membuat suasana gosip makin sip. Bu Tedjo pun makin mumbul karena merasa ada yang mendukungnya. 


Apakah kita mau menjadi Bu Tri? Membenarkan perkataan teman, bukan mengatakan yang benar pada teman? 

Di tengah ibu-ibu yang mabok gosip, ada Yu Nah yang mabok kendaraan, dalam dunia pergosipan di atas truk ini sepertinya Yu Nah yang paling mewakili orang-orang yang gak mau tahu dengan sekitarnya karena dia sudah lelah dengan dirinya sendiri. Telek minthi sama Si Dian, mau dia perempuan gak bener kek, mau dia hamil di luar nikah kek, emang gue pikirin. Ini kalau Yu Nah main fb, semua orang di timeline-nya nyetatus bab klepon tidak syar’i, wall Yu Nah dipenuhi curhat masalah pribadi.


Adegan gotrek ditilang polisi juga menggambarkan “The Power of Emak-Emak”, satu emak yang sein kiri belok kanan saja sudah bikin polisi susah, ini emak-emak satu truk mau gigit polisi. That “empatinya itu lhooo Paaak”, sama “saya punya kenalan polisi bintangnya lima jejer-jejer berani apa enggak?” Bener-bener bikin ngakak πŸ˜‚ sampai akhirnya pak polisi nyerah gak jadi nilang gotrek. Emak-emak dilawan 😎


Sopir gotrek ibu-ibu ini ternyata juga ngefans loh sama Dian, sampai dia dijewer istrinya waktu ikutan ngomongin Dian “bojoku ancen NGGIATHELI” πŸ˜‚. Mungkin pak sopir lelah karena sepanjang perjalanan ibu-ibu ghibahin Dian. Entah ya aku melihat orang laki-laki tidak begitu tertarik dengan gosip ibu-ibu. Makanya suka heran kalau ada cowok tapi suka gosip ;) sampai ada istilah lambe wedok πŸ˜„ padahal gosip gak kenal gender πŸ˜‚

Sampai di rumah sakit, ibu-ibu turun dan kebetulan bertemu Dian dan Fikri di depan Rumah Sakit, Bu Tedjo sih tetep dengan kenyinyirannya tanya kapan Fikri sama Dian menikah, tapi mereka berdua tidak menanggapi. Namun ibu-ibu yang datang harus rela menerima kenyataan kalau ternyata Yu Ning salah info dan gegabah menjenguk Bu Lurah karena posisi Bu Lurah masih berada di ICU dan tidak boleh ditilik. Akhirnya mereka semua pulang.


Demi menghibur rasa kecewa ibu-ibu karena sudah datang jauh-jauh. Bu Tedjo punya inisiatif untuk mampir ke pasar gedhe agar ibu-ibu yang lain bisa bersenang-senang. Bu Tedjo faham betul kalau ibu-ibu paling suka diajak ke pasar untuk belanja dan mereka semua berbahagia.


Detik-detik berakhirnya film ini pasti semua geram dengan Bu Tedjo dan berharap Dian tidak seperti yang digosipkan. Namun nyatanya di luar dugaan, ending yang plot twist. Dian bukannya pacaran sama Fikri, malah mau menikah sama Pak Lurah, Bapaknya Fikri πŸ˜‚ greget gak sih ide ceritanya πŸ˜‚


Sedangkan pandangan penonton tentang Yu Ning yang menganggapnya sebagai sosok yang baik, care, berfikiran positif, ternyata dia sendiri gundah dengan keyakinannya, terlanjur malu sudah mengkoordinir ibu-ibu untuk tilik Bu Lurah malah Yu Ning salah info, apa lagi sempat bertemu dengan Dian dan Fikri yang terlihat akrab, selama ini yang berusaha Yu Ning luruskan kepada ibu-ibu ternyata bertolak belakang dengan yang ia fikirkan.


Apakah kita ini representasi dari Yu Ning? Yang mencoba berfikiran positif kepada seseorang, sementara kita tertipu dengan fikiran kita sendiri? 

Dian, yang digunjingkan ibu-ibu bisa jadi adalah masa muda kita yang penuh judgemental dari orang-orang sekitar kita. Sekolah kita, pekerjaan kita, umur kita, status kita, atau gerak laku kita secara tidak langsung menjadi perhatian khusus di masyarakat. Maka tidak heran ketika kita sedang berkumpul dengan tetangga atau keluarga besar kerap ditanya “kapan wisuda?”, “kok belum nikah?”, “kerjanya apa kok malam baru pulang?”, dan segala pertanyaan lain yang mengganggu fikiran. Hal-hal tersebut tidak bisa kita hindari karena tidak menutup kemungkinan pula kita ini adalah the next Bu Tedjo, the next Yu Ning, Bu Sam, Bu Tri, dan ibu-ibu lainnya yang tergabung dalam jamaah rasan-rasan.


Setelah melihat film ini aku justru menyadari bahwa masa mudaku dulu juga kerap digunjingkan seperti Dian dan benci dengan sosok ibu-ibu penggunjing di kampung, tetapi ketika aku berumah tangga dan banyak kenalan dengan ibu-ibu lainnya, aku malah bertransformasi jadi Bu Tedjo 😩 

Bu Tedjo adalah kita yang tertunda!

8 komentar

  1. Sukaaa sama tulisannyaaa πŸ’–

    BalasHapus
    Balasan
    1. dede emezzzz makasiii sudah mampirrr :*

      Hapus
  2. Karena masih single, aku mungkin sosok Dian yang dipergunjingkan. Tapi nanti kalau udah Ibu-ibu, semoga gak jadi Bu Tedjo. Yu Nah juga gak papa ya. Suka mabok aku tuh, hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. wkwkwk aku dulu gitu, tapi kayaknya aku kena karma emak2 jadi punya jamaah ghibah sekarang :/

      Hapus
  3. Iih..ya Allooh.. Apik tenan iki lho tulisannne..solutip mbarang..

    BalasHapus
  4. Saya adalah seseorang yang tinggal di desa, mayoritas ibu-ibunya bermata pencaharian sebagai petani. Seumur hidup tinggal dilingkungan ibu-ibu pekerja musiman yg mempunyai banyak waktu untuk bergerombol dan berasan-rasanπŸ˜€. Bukan lagi tidak mungkin saya adalah topik ("Dian"). Jengkel juga sih, mulai dari Sekolah, Kuliah sampai lulus sampai sekarang sudah bekerja saya jadi topik hangat teman minum es marim**s dan jajanan.Tetapi, ambil positifnya saja mereka sangat memperhatikan dan over care terhadap diri saya dan keluarga saya. Terimakasih pada Grup Rasan-rasan πŸ™ yang menjadikan saya sampai ke hari ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. dari Bu tedjo kita belajar, cocot tetangga tidak selamanya salah :(

      Hapus

Budayakan berkomentar  γƒ½(^。^)γƒŽ

Error 404

The page you were looking for, could not be found. You may have typed the address incorrectly or you may have used an outdated link.

Go to Homepage