Beberapa hal belakangan ini membuatku tersadar kalau otakku mengalami brainfog. Kejadian pertama, aku sudah menerima janji untuk memberikan kajian bersama teman-teman Fatayat PAC Pralon, dijadwalkan pagi jam 08.00, flyer sudah aku sebar di media sosial WhatsApp dan cerita Instagram, disertai caption gimmick pecinta Indomie, karena ndilalah kok ya di antara segitu banyak foto yang aku kasih ke panitia, yang dipajang di flyer adalah foto pakai hijab Indomie instan yang didesain sendiri sama suami karena tahu kalau istrinya ini pecinta Indomie--benar-benar love language yang industriable. Tibalah harinya, aku malah rebahan sampai jam 09.30, ditelfon panitia katanya sudah ditunggu audiens, kaget dong, soalnya dari kemarin-kemarin, otakku membacanya jam 20.00, kayak kacau banget ya memoriku. Melakukan ritual make up tipis biar gak kayak orang linglung, dan berangkat. Untungnya kajian Maulid Nabi, yang kisah tentang Nabi gak habis-habis untuk diulas, membuka catatan ngaji dan difoto. Selama perjalanan--btw aku nyetir sendiri as independent woman (woylah)--15 menit, gak pernah sesuka ini macet dan lampu merah, karena bisa membaca dan belajar untuk disajikan dalam kajian. Untungnya waktu aku datang jam 10.00, rangkaian pra acara masih berlangsung, setidaknya tidak sebegitu feeling guilty :(
Kejadian kedua. Masih bersambung dengan kejadian pertaama. Setelah sampai ke lokasi, singkat cerita acara selesai, langsung balik ke rumah karena ada teman yang janjian mau datang ke rumah, mobil yang sudah aku perkir rapi dan lurus, aku tabrakkan dudukan masjid, karena gak kelihatan, masih dalam rangka plenger. Walhasil, terbukalah kap mobil :) untung suami soft spoken, jadi cuma ditanya "Kamu gapapa kan? Gak kaget kan? Ya udah kalau cuman begini besok aku bawa ke bengkel"
Kejadian ketiga, masih bersambung dengan kejadian pertama, gak tahu ini hari apasih, saat sudah sampai rumah, teman datang ke rumah bersama keluarga intinya, baru teringat kalau hari itu juga ada jadwal jadi peringkas ngaji di PW Fatayat NU, acaranya sore jam 16.00 (sudah dicatat di jadwal juga), sudah ada flyer juga. Karena tidak mungkin meninggalkan tamu, maka aku meminta izin kepada petugas ngaji agar ada yang mewakilkan, dan respon mereka adalah "Kan ngajinya masih besok?"
Aku:
Ha gimana ya, setelah rentetan ujian kualifikasi - ujian proposal - ujian komprehensif - ujian tertutup - ujian terbuka, lanjut ngurusin (jualan) Muktamar, menjuri ratusan resensi, hadir di mimbar-mimbar Maulid Nabi. Sudah pada tahap ngucap "secangkir pagi di kopi hari" dan "anak salah sa saya anak salah apa saya anak..."
2. @shiramedia
![]() |
| bebas baca buku terbitan Shira Media |
![]() |
| spot fotonya kyoot |
![]() |
| akhirnya wishlist buku First Frost tercentang :) |
![]() |
| ada spot Le Petit Prince |
3. @bukuakik
![]()
| ||
| Mengnya menyambut pengunjung :) |
Mborong total 23 buku dari ketiga toko buku itu. Sebenarnya mau ngunjungi GIK UGM, Solusi Buku, sama Akal Buku, tapi ternyata waktunya masih kurang. Selama di Jogja rela makan indomie dan nasi kucing, prei gudeg Yu Djum π setidaknya tidak kelaparan dalam keadaan melek literasi.
![]() |
| ibu CEO-CEO |
Untungnya ada sohibul wilayah wal karomah wal fadhilah wal ketua Nawaning JPPPM-iyah Ning Fetra Nur Hikmah dan Bunyai idola Ning Rimaya Ahadia yang ngajak ketemuan bawain kita nasi gudeg dan nraktir Soto Kerang, pulangnya dibawain oleh-oleh khas Jogja, baik-baik orang panjang π₯Ήπ€²π» makasih juga buat Ning Rere Arobia mai luv yang udah nemenin belanja dan yapping-in buku bacaan kita ππ
When yh di Mojokerto ada book store estetot kayak gini π₯Ίπ€π»













Tidak ada komentar
Posting Komentar
Budayakan berkomentar γ½(^。^)γ