Rabu, 07 Juli 2010

Filosofi Bola

Posted by Uswah on Rabu, Juli 07, 2010 with No comments
Masih demam suasana piala dunia, bagi mereka yang suka.. bagiku yang tidak suka merasa geli dan aneh saja.. bagaimana mungkin satu bola diperebutkan 22 orang dewasa, berlari-lari menendang bola, dan melemparkan kembali bola setelah berhasil merebutnya. Sedangkan ada juga dari mereka yang membahas, mengkalkulasi, menyeminarkan, bahkan mendirikan sekolah untuk itu pun, yah begitulah jika suatu hal sudah menjadi hobi, tidak ada yang aneh ataupun merasa konyol dengan hal itu, malah menjadi sesuatu yang fantastis dan sayang untuk dilewatkan.. ini adalah kedua kalinya aku membahas tentang bola.. bukannya sinis, tapi memang jika diperhatikan, bola seperti suatu magic yang dapat menghipnotis semua orang yang sudah melihat sepak terjang pemain.. dalam keantusiasan para penggila bola aku jadi ikut-ikut mengambil hikmah dari permainan gila ini
Tentang bola, kata temenku yang pengamat bola: "bola itu bundar, bergulir ke semua arah, kadang sulit ditebak. Sama dengan potret fenomena kehidupan yg berubah2. Kepastian & abadi hanya milikNYA"

Tapi itulah hidup. kata Gus Mus. Hidup tak lebih dari permainan, seperti permainan sepak bola itu. Orang berlari-lari, berebut sesuatu yang sepele untuk kemudian dilepas dan dikejar-kejar lagi. Mereka yang mengejar dan berebut harta misalnya, setelah berhasil mendapatkannya, ada yang dilepas secara sukarela, ada terpaksa dilepaskannya. Demikian pula mereka yang mengejar dan berebut kursi atau kekuasaan. Untuk merebut, kalau perlu menyikut, menendang, dan menginjak saudara sendiri. Yang gede menggunakan ke-gede-annya; yang mempunyai kepintaran menggunakan kepintarannya; yang kuat memanfaatkan kekuatannya; dan sebagainya dan seterusnya. Karena itu, sebagaimana dalam permainan sepak bola juga, aturan dan ketaatan terhadap aturan permainanlah yang paling menentukan enak atau tidaknya permainan itu dimainkan dan ditonton. Sebaliknya ke-tiadaan-aturan atau ketiadaan ketaatan terhadap aturan-lah yang membuat rusak permainan. Apalagi apabila penyelenggara dan pimpinan permainan sendiri sudah tidak mempunyai itikad untuk menegakkan aturannya.

Kataku yang masih belum berstatus merit: "jodoh itu seperti permainan sepak bola, dengan siapa nanti pilihanku tergantung aku menendangkan kemana arah bola yang aku inginkan, tapi bisa saja tendanganku meleset tidak sesuai prediksiku bahwa aku ingin memberikan bola itu pada lelaki A, kadang bisa saja tuhan mengalihkan arah tendangan bolaku ke lelaki B, dan akhirnya bolaku jatuh ke tangan si B.. entah karena sebab arah angin yang meniupkannya, ataukah ada orang lain yang ikut2an menendangnya.. karena memang itu rencana tuhan, ingin menjodohkanku dengan lelaki B".. hehehehe..

dan untuk filosofi bola yang terakhir, abaikan saja!! cuma iseng.. he3x

0 komentar

Posting Komentar

Budayakan berkomentar  ヽ(^。^)ノ

Cancel Reply