Senin, 02 Oktober 2017

Bila wanita memutuskan untuk menjadi seorang Pendidik

Posted by Uswah on Senin, Oktober 02, 2017 with 8 comments
Ketika ditanya teman seangkatan sekolah dulu tentang "apa pekerjaanmu sekarang, Uswah?", matihh.. Lidah menjadi kelu sekali, mau jawab langsung "jadi guru" tapi maju mundur cantik, kayaknya lebih mudah menjawab brondongan pertanyaan sekarang tinggal dimana, rumah sendiri atau ngontrak, pake skincare apa biar gak jerawatan, bodi naik berapa kilo setelah melahirkan dan pekerjaan suamimu apa(?), kebanyakan aku jawab dengan basa basi dan bercanda, "pekerjaanku banyak, apapagi pekerjaan rumah: nyuci, ngepel, nguras kamar mandi, nyikat wc", atau pas lagi serius aku jawab "aku gak kerja, tapi ngabdikan ilmu", bagiku menjadi guru bukan sebuah profesi atau karir, menjadi guru adalah panggilan hati, menjadi guru tidak sekedar ceklok (seperti aturan sekolah masa kini), mengajar, terima gaji, mbuh murid mudeng apa tidak. Lebih dari itu, menjadi guru adalah mendidik, mendidik jiwa yang masih murni, sedewasa apapun usia murid kita, meskipun sudah mahasiswa sekalipun anggap saja jiwa mereka masih murni, sebab jika ilmu yang kita sampaikan belum sampai pada sasaran, kita menganggap bahwa hal tersebut adalah khilaf yang masih harus kita bimbing terus agar murid-murid kita menjadi insan yang berakhlak dan mudah menerima ilmu. 

Ya.. Menjadi guru, aktivitas yang awet. Yang tidak kelam dimakan zaman, menjadi guru hingga akhir hayat. Sehingga mungkin kita yang dulunya sebagai murid lalu kita tumbuh dewasa, profesi kita bermacam-macam, ada yang menjadi pengusaha, menjadi ibu rumah tangga, menjadi dosen, menjadi guru, menjadi pedagang, menjadi presiden, tetap saja, ketika kini bertemu dengan guru-guru kita dulu, mereka tetap betah mengajar dan mendidik yang setingkat lebih maju dengan motor maticnya, sudah tidak mengayuh sepeda tua seperti di lagu anak-anak. Kerap kali wajah merekapun tetap sama seperti pertama kali mereka mengenalkan diri kepada kita saat duduk di bangku sekolah, bukan? Menjadi guru itu bikin awet muda, karna mereka selalu mengajar dengan ikhlas, wajah ceria siap transfer ilmu. 

Menjadi guru itu luar biasa, bahkan di kitab Ta'lim Muta'allim, murid diharuskan mendahulukan guru daripada orang tua, serasa ada yang aneh dengan pernyataan Kyai Mushannif ini, maka aku menanyakan hal yang mengganjal ini kepada guruku, beliau menjawab, guru sejatinya adalah murobbirruh, mendidik jiwa, beda dengan orang tua, pada umumnya membesarkan fisik kita, maka guru lebih diutamakan daripada orang tua, kalau durhaka dengan orang tua bisa dihapus dengan taubat, tapi kalau murid durhaka dengan guru, tidak ada yang bisa menghapusnya, seketika itu pula ilmu terputus, ilmu yang terputus adalah ilmu yang tidak bermanfaat. Begitu qoul Imam Nawawi dalam Kitab Tahdzibnya. Melihat sakralnya sosok guru yang kata Sayyidina 'Ali "ana 'abdu man' allamani harfan wahidan", aku rela menjadi budak bagi seseorang yang mengajarkanku walau 1 huruf saja, tidak lantas menjadikanku GR sebagai guru yang nguwalati dan lantas menyabotase barokah, justru ini adalah pukulan telak, menjadikanku yang sebagai seorang guru harus lebih berhati-hati lagi untuk tidak sedikit-sedikit sakit hati dengan ucapan dan akhlak murid yang kurang baik, sebab jika aku sakit hati maka ilmu muridku tidak bermanfaat, ini yang ngeri, kalau ilmu mereka tidak bermanfaat itu artinya ilmuku juga tidak bermanfaat sebab terputus pada anak tersebut, iyadzubillahi min dzalik. Menjadi guru adalah ujian kesabaran, jika kita bersabar, maka Gusti Allah bakal welas asih, membukakan pintu rahmat di dada murid kita, ilmu akan masuk di dada mereka dengan mudah, kelak jika mereka sukses dengan ilmu yang mereka dapatkan, kita juga bakal dapat jariyahnya, kata Bunyaiku "cintai muridmu, manfaat ilmumu".

Hubungan yang baik antara Guru - Murid - Wali Murid juga penting, jika semua komponen tersebut mendukung, ilmu berkah dan manfaat, aku sampai sekarang heran dengan mlorotnya akhlak murid kepada guru dan akhlak wali murid kepada gurunya anak, ada wali murid memukuli gurunya anak, sampai ada wali murid memperkarakan guru ke pengadilan cuma sebab mencubit anaknya, ini yang sampai sekarang tidak habis fikir, kok bisa ada orang tua yang baperan kayak gitu, bikin sekolah sendiri aja, diajari sendiri anaknya, ijasahnya juga bikin sendiri. Lha jamanku dulu suka iseng ngadu domba bapakku dan guruku, sebenarnya aku yang malas nggarap tugas, aku ngadu ke bapak, ngomong yang enggak-enggak tentang guruku, yang bilang dibentak-bentak guru, gurunya malas sudah capek-capek bikin tugas gak dikoreksi, dengan harapan bapak saya mbelani aku, lhadalah aku malah dimarahi bapak "ngunu o terus, sitik ae koe suudzon nang gurumu gak bakal manfaat ilmumu, tak jamin", (gitu aja terus, sedikit saja hatimu terbesit suudzon ke gurumu, aku menjamin ilmumu tidak akan manfaat). Ealah apes. Tapi sekarang aku faham apa yang diucapkan bapak adalah nilai-nilai akhlak. 

Sebagai seorang istri dan ibu yang merangkap jadi guru terkadang ada banyak celotehan di luar sana, yah begitulah, pada akhirnya kita harus menyudahi debat agamis kesetaraan gender tentang lebih solihah mana ibu yang stay di rumah momong anak-anak nyambi dagangan online secara dropship dengan menjadi wanita yang mengajar tak kenal lelah, tak kenal pensiun, mengajar hingga akhir hayat. Karna pada dasarnya:

Menjadi istri, ibadah
Menjadi ibu, ibadah
Mengajar, ibadah
Menjadi istri dan ibu sekaligus mengajar, ibadah pangkat 3

Fokus untuk mencari ridlo ilahi melalui mendidik murid adalah kunci menjadi ibu guru yang awet muda, tapi yang perlu diingat, dalam mencari ridlo ilahi tentunya jauhi marah apalagi marah frontal sampai ke fisik murid, jagalah hati, jangan hobi kirim berita hoax di grup WA sekolah, apalagi curhat di media sosial tentang masalah dengan murid-murid, bisyaroh yang belum cair, dan.. Ya sudah lah, ambil sana sepedanya 

Semoga kita tidak hanya menjadi orang tua, tapi juga menjadi murobbirruh untuk anak dan murid kita.. 

source google

8 komentar

Kalau bagi saya tidak ada gender-genderan bu, selama semua pekerjaan dilakukan dengan baik :)
Selamat mengajar
Uswah mengatakan... 2 Oktober 2017 11.36
iyesss pak.. jaman sekarang banyak yang ga realistis meskipun gayanya kek paling idealis.. teriaknya gender, emansipasi, tapi giliran cewek2 disuruh ngangkat galon bilangnya ga menghargai wanita :p seperti ituh :p
Delete
Selamat mengajar, semoga menjadi ladang ibadah.
Delete
ReplyDelete
Betul sekali, lebih baik fokus mengejar ridho dengan cara memberikan ilmu yang luar biasa kepada murid. Semangat
Uswah mengatakan... 2 Oktober 2017 11.36
selalu semangatttt demi generasi selanjutnya!!!
Delete
ReplyDelete
Nah ituuu..., selama ini tidak sedikit orang tua yang lebih banyak memainkan perannya sebagai murabbil jasad, ya, Mbak. Mereka lupa bahwa ada peran lain yg justru lebih utama dan mulia, yaitu murabbirruh.
ReplyDelete
aamiin, selamat pagi bu guru :)
ReplyDelete
Tapi sebagai murid harus punya jiwa kritis.., bukan berarti tidak hormat sama gurunya?
Sekarang banyak tokoh tokoh yang memanfaatkan jemaah atau muridnya untuk kepentingan politik sesaat. Atau hanya untuk mengumpulkan uang dari muridnya.
Waya Pernah jadi guru, aduh waktu itu gajinya kecil sekali, sekarang aduh lumayan besar. Ibadah dan ibadah jadi enteng ngerjainnya.
ReplyDelete

Posting Komentar

Budayakan berkomentar  ヽ(^。^)ノ

Cancel Reply